IMG_1604

FLUID MECHANIC, STEAM POWER PLANT, HEAT TRANSFER, THERMODYNAMIC

Pengaruh Variasi Venturi dan Dimensi Venturi Pada Demand Oxygen Di Kolam  Percobaan

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Steven Hernando Budiono1*, Nopem AriwiyonoST., MT.2, Bambang Antoko ST., MT.3

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia3

Email: steven.hernando@gmail.com1*.,nopem.ppns@gmail.com2*., bambangantoko@gmail.com3*.

Abstrak – Dalam ekosistem perairan terdapat berbagai jenis macam makhluk hidup seperti ikan, tumbuhan, dan micro-organisme, dimana makhluk hidup tersebut memerlukan oksigen sebagai faktor utama demi kelangsungan hidup. Jika didalam perairan mengalami kekurangan oksigen yang dapat mempengaruhi keseimbangan ekosistem, maka terdapat usaha untuk melakukan penambahan oksigen didalam air. Penambahan oksigen tersebut dapat dilakukan dengan cara menggunakan proses aerasi dengan menggunakan aerator jenis venturi. Tujuan desain alat ini untuk mempercepat kandungan oksigendidalam air. Penelitian ini untuk mengetahui kadar DO didalam air akibat penggantian alat aerator jenis venturi dan menggunakan beberapa variasi desain aerator serta memberikan penyelesaian atau solusi pada penambahan Demand Oxygen (DO) didalam air. Pada percobaan ini menghasilkan enam jenis aerator jenis venturi. Desain ini menggunakan diameter 1”, ¾”, ½” dengan jumlah venturi dua dan tiga.  Dari hasil percobaan dan pengujian laboratorium yang telah dilakukan maka didapatkan kadar DO yang paling banyak menggunakan desain aerator jenis venturi dengan diameter 1” dan ¾” dalam dua jumlah venturi yaitu 2,30 mg/l.

 

        Kata Kunci :Aerator, Venturi,kadar DO.

DESAIN MODIFIKASI GAS LINE DARI INLET GAS COOLER MENUJU INLET GAS COMPRESSOR BESERTA PEMBUATAN CES (COST ESTIMATED SEVICE).

(STUDI KASUS DI PT. PGN SAKA)

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Satria Hanif Amri(1), Ir. Emie Santoso, MT.(2), M Shah, ST. MT(2)

Politeknik Perkapalan Negeri, Surabaya, Indonesia1

Politeknik Perkapalan Negeri, Surabaya, Indonesia2

Politeknik Perkapalan Negeri, Surabaya, Indonesia3

Abstrak – Inlet gas cooler merupakan unit yang berfungsi untuk mendinginkan fluida dari inlet gas compressor, fluida tersebut akan didinginkan semaksimal mungkin menggunakan udara. Fluida selanjutnya mengalir menuju inlet gas exchanger dan  sebagian  akan dikembalikan lagi ke inlet gas compressor melewati jalur anti surging. Anti surging merupakan jalur yang berfungsi menjaga kesetabilan debit masukan inlet gas compressor menggunakan katup anti surge controller (440-FV-110). Beberapa cara mencegah surging diantaranya menambah flow dari proses ke compressor atau mengurangi rasio tekanan dengan cara mengurangi tekanan discharge atau menambah tekanan suction. Topik yang akan di bahas adalah modifikasi gas line dari Inlet gas cooler menuju inlet gas compressor yang diakibatkan oleh trend flow gas makin menurun sehingga berakibat pada compressor. Untuk itu diperlukan penggantian diameter pipa dengan harapan menaikkan tekanan pada suction compressor. Pergantian diameter pipa sepanjang ±10 meter (line no 3) dari 8 inch ke 4 inch berdampak pada kenaikan  tekanan suctioncompressor dari  35.38 Bar ke 37.16 Bar, Akibatnya kebutuhan daya compressor menjadi turun dari 21.305 HP menjadi 19.287 HP. Pipa 4 inch membutuhkan jumlah support sebanyak 3 buah dengan jarak antar support maksimal 4.3 meter dan total biaya penggantian yang dibutuhkan sebesar  US$ 2,116,598.75.

Kata kunci : Desain perpipaan, Headloss, Surging, Support

ANALISA PENGARUH PERUBAHAN LAJU ALIRAN TERHADAP LAJU EROSI dari PRODUCTION SEPARATOR menuju GAS SCRUBBER

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Wildan Nur Khumaidi Ahfadz1*, Ir. Emie Santoso MT. 2, Edi Hariono ST., MT. 3

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: khumaidiahfadz@yahoo.com1*emie.santoso@gmail.com2*; nesta.edo@gmail.com3*;

ABSTRAK

        AbstrakPlant yang terdapat di PT. PERTAMINA EP beroperasi selama 24 jam. Fluida berupa campuran gas dan partikel sand memiliki sifat erosif yang akan mengikis bagian dalam material. Perubahan laju kecepatan yang berbanding lurus dengan laju erosi menjadi masalah utama yan perlu dianalisa agar plant yang dibangun sesuai dengan lifetime construction. Pada jalur pipa outlet production separator terdapat reducer 12” ke 6”, penurunan luas penampang ini akan mengakibatkan laju erosi semakin cepat dikarenakan laju aliran yang meningkat diakibatkan oleh luas penampang semakin mengecil. Debit sebesar 0.88/detik serta fluida sisa bawaan dari production separator berupa gas dan sand (0.04%) menjadi faktor utama terjadinya laju erosi pada line tersebut. Perhitungan laju erosi menggunakan standar DNVGL-RP-0501 2015.Pada analisa ini akan didapatkan perhitungan tentang laju erosi pada pipa, valve dan reducer. Perhitungan laju erosi menggunakan perbandingan antara tebal perhitungan material dengan ketebalan minimum yang disarankan di standard ASME B31.3. Data ketebalan tersebut lalu digunakan untuk menghitung lifetime pada pipa, reducer dan valve.     

        Kata Kunci :Erosi, Ljua Kecepatan, Reducer, Valve, Pipa, Lifetime Material

ANALISA PENGARUH WATER HAMMER PADA PIPA CEP (CONDENSATE EXTRACTION PUMP) PADA TURBIN MAKE UP WATER SISTEM

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Rio Dwitya Herlambang(1)*, Ir. Emie Santoso MT. 2, Ekky Nur Budiyanto SST., MT. 3

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: Rioherlambang450@yahoo.co.id*; Emiesantoso@yahoo.com2;Ekkynurbudiyanto@gmail.com3*;

ABSTRAK

            Aplikasi dari sistem perpipaan untuk  jalur fluida banyak kita jumpai pada dunia industri. Pada fenomena  Water Hammer pressure pada sistem perpipaan tersebut, merupakan salah satu parameter yang harus diperhitungkan dalam suatu sistem perpipaan diindustri. Fenomena ini terjadi karena adanya kenaikan gelombang tekanan yang dapat menyebabkan nilai negatif. Dampak dari fenomena tersebut sangat bervariasi mulai dari timbulnya getaran sampai pecahnya dinding pipa akibat besarnya gelombang dan tekanan yang terjadi.

                Penelitian ini dilakukan untuk dapat mengetahui serta menentukan distribusi tekanan akibat water hammer, tegangan  yang telah dioptimasi dan disimulasikan dengan software caesar, serta memberikan penyelesaian atau solusi pada perusahaan agar tidak mengalami water hammer kembali.

                Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa tekanan terbesar terjadi pada katub penutup,terjadi kenaikan tekanan sebesar 13 bar. Dan untuk mengurangi lonjakan tekanan digunakan akumulator dari pemodelan software pipenet.

 

Pengaruh Pergantian Monitor/Active Regulator ke Pressure Contro Valve

(PCV) terhadap performa Regulating Station Offtake Waru

Titis Kusuma Wardhani. 1*, Ir. Emie Santoso, MT.2, Ekky Nur Budiyanto, SST., MT 3

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: wardhanizal17@gmail.com1*emie.santoso@gmail.com2*; ekkynurbudiyanto@email.com3*;

Abstrak – Metering Regulating Station (M/RS) merupakan stasiun yang berfungsi untuk melakukan aktifitas pengukuran laju alir gas (metering) dan mengatur tekanan gas (regulating). Instrument pentingyang terpasang pada regulating station adalah Monitor/ Active Regulator (M/A regulator). Penggunaan Monitor/ Active Regulator (M/A regulator) pada sistem sekarang ini sudah tidak efisien, mengingat sudah langkanya spare part untuk Monitor/ Active Regulator (M/A regulator) dan harganya yang relatif mahal serta untuk memudahkan proses maintenance maka dilakukan upgrading system terhadap regulating station. Oleh karena itu, Monitor regulator (RM-8”-A/BWRU) dan Active regulator (RA-8”-A/B-WRU) akan digantidengan Pressure Control Valve (PCV). Pada analisa ini akan dihitung total  flowrate serta pressure drop saat kondisi actual, normal, dan worst dianalisa pula allowable stress. Penyelesaikan tugas akhir ini menggunakan perhitungan manual dan software serta perhitungan allowable stress akan dilakukan secara manualdengan mengacu pada standart ASME B31.8 “Gas Transmission and Distribution Piping System”. Hasil dari perhitungan bahwa nilai flowrate (Qactual)pada new design lebih rendah dibandingan dengan flowrate (Qactual) old design. Besar nilai flowrate 11,78 ft3/s, 29,57 ft3/s, dan 39,58 ft3/s pada saat kondisi actual, normal, dan worst new design. Untuk old design, besar nilai flowrate 13,01 ft3/s, 32,58 ft3/s, dan 43,52 ft3/s pada saat kondisi actual, normal, dan worst new design. Sedangkan untuk nilai pressure drop, new design memiliki nilai pressure drop yang lebih rendah juga dibandingkan dengan old design. Besar selisih nilai pressure drop new antara perhitungan manual dan software yaitu 0,007 psi/10ft, 0,076 psi/10ft, dan 0,348 psi/10ft pada kondisi actual,normal,dan worst. Meskipun terdapat sedikit selisih namun keduanya masih tetap dalam batasan pressure drop yang di ijinkan pada design basic yang diberikan oleh client.

Kata kunci : flowrate, pressure drop, allowable stress.

ANALISA PENGARUH EROSI TERHADAP KELAYAAN JALUR PIPA DARI INLET SEPARATOR MENUJU SLUG CATCHER DI PGN SAKA

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Muhamad Angga Raymon S.1*, Projek Priyonggo SL., ST., MT.2, Edi Hariono ST., MT. 3

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: angga.raymon@gmail.com1*;  Projek_me@yahoo.co.id2*; nesta.edo@gmail.com3*;

Abstrak–   Pengeboran dari sumur whp-a dan whp-b yang berlokasi di Ujung Pangkah laut Madura dieksploitasi oleh PGN Saka Ltd. Hasil dari pengeboran tersebut berupa minyak mentah dan gas alam yang masih tercampur dengan kotoran/slug. Adanya kandungan slug dari sumur yang ikut terbawa aliran fluida pada jalur pipa mengakibatkan gesekan antara partikel slug dengan dinding pipa tidak bisa dihindari, ditambah adanya perubahan diameter pipa dari 10” menjadi 8” mengakibatkan faktor berkurangnya ketebalan dinding pipa semakin besar. Metode analisa pada tugas akhir ini dilakukan dengan cara menghitung nilai kecepatan fluida campuran menggunakan perhitungan manual dan hasil yang diperoleh dari software Pipe Flow Expert, yang kemudian akan dijadikan referensi untuk menghitung laju erosi tiap tahun pada pipa, valve, elbow dan reducer. Hasil yang didapatkan dari analisa laju erosi ini yaitu nilai umur pakai tiap material dengan mengacu pada tebal aktual, tebal minimum dan laju erosi material.Hasil perhitungan tersebut akan dijadikan bahan analisa untuk menentukan layak tidaknya material untuk tetap beroperasi dibandingan dengan life time plan construction. Angka yang didapat dari hasil perhitungan kecepatan campuran sebesar 24.962 m/s untuk perhitungan manual, dan 25.477 m/s dari software pipe flow expert. Laju erosi yang didapakan dari perhitungan sebesar 0.3, 1.8, 1.2, 0.15, 0.20, 2.73 mm tiap tahun untuk masing-masing material pipa 10”, pipa 8”, valve, elbow 10”, elbow 8” dan reducer. Angka yang didapatkan dari hasil perhitungan life time pada material pipa 10”, pipa 8”, valve, elbow 10”, elbow 8” dan reducer masing-masing memiiki nilai life time sebesar 36, 6, 9, 87, 9 dan 5 tahun.

Kata Kunci : Erosion rate, inlet separator, life time, Minimum wall thickness, Pipe Flow Expert, Slug catcher.

ANALISIS PENCEGAHAN TERJADINYA EROSI pada REDUCER DI LINENUMBER H2S04-007-6” DI INDUSTRI ASAM SULFAT

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Alfan Firdaus Kurniawan1*, Heroe Poernomo, ST.,MT. 2, Nopem Ariwiyono, ST., MT. 3

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: alfanfirdaus17@yahoo.co.id1*hroe_p@poltera.ac.id2*; nopem.ppns@gmail.com3*;

ABSTRAK

Salah satu plant yang terdapat di PT.X memproduksi bahan kimia berupa asam sulfat (H2SO4). Pada jalur perpipaan pada line number H2SO4-007-6” menerima tambahan beban operasi akibat peningkatan produksi. Perusahaan mengganti spesifikasi pompa distribusi asam sulfat menuju plate heat exchanger sebagai sarana peningkatan produksi. Reducer sebagai komponen penghubung antara pump tank dan plate heat exchanger mengalami kegagalan sebelum lifetime yang ditentukan.

Tugas akhir ini akan membahas tentang pencegahan terjadinya laju erosi pada reducer. Diharapkan reducer yang ada mampu bertahan hingga mencapai lifetime yang perusahaan inginkan. Terdapat dua cara yang digunakan, yaitu pertama dengan merubah schedule dari reducer. Yang kedua dengan mengganti desain diameter pipa lama dengan desain diameter pipa baru pada jalur pipa tersebut sesuai dengan standar. Reducer yang terpasang saat ini berukuran 6”x4” dengan material stainless steel A403 grade 304L schedule 40s. Pipa yang telah terpasang memiliki diameter sebesar 6”. Kapasitas pompa memiliki debit sebesar 210 m3/h. Standar perhitungan tugas akhir kali ini menggunakan standar DNV RPO501 Revision 4.2-2007, API 570 dan ASME B31.3 sebagai acuan analisa dan perhitungan.

Dari hasil perhitungan yang dilakukan, dengan menggunakan reducer ukuran 6”x4” dapat diketahui nilai laju erosi reducer ke-1 yang terjadi yaitu sebesar 0,762 mm/tahun dan lifetime mencapai 6,4 tahun. Hasil tersebut ternyata tidak mampu mencapai besar lifetime yang diinginkan oleh perusahaan yaitu 10 tahun. Untuk dapat mencapai lifetime yang ditentukan maka reducer ke-1 harus memiliki ketebalan sebesar 7,6 mm. Selanjutnya dengan melakukan penambahan panjang dari reducer awal, lifetime yang terjadi mampu mencapai lifetime yang diinginkan perusahaan. Variasi yang dilakukan sebesar 0,20 m dan 0,25 m. Lifetime yang terjadi yaitu sebesar 11,5 tahun dan 16,5 tahun.

Kata Kunci : Erosi, Kecepatan Aliran, Lifetime, Reducer, Variasi Panjang Reducer.

ANALISA PENGARUH WATER HAMMER TERHADAP DINDING DAN NILAI TEGANGAN PIPA DISCHARGE POMPA BS 1 PT. PERTAMINA EP TANJUNG

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Muhammad Ramadhan Ismukada Syahrif(1)*, Priyo Agus Setiawan MT. 2, Ekky Nur Budiyanto SST., MT. 3

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: syahrifmuhammad@gmail.com1*; Email@email.com2*;Ekkynurbudiyanto@gmail.com3*

ABSTRAK

                   Aplikasi dari sistem perpipaan untuk jalur distribusi fluida banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena water hammer merupakan salah satu parameter yang harus diperhitungkan dalam sebuah sistem perpipaan. Fenomena ini terjadi akibat fluktuasi aliran fluida dan kenaikan gelombang tekanan ketika aliran diberhentikan secara tiba-tiba. Dampak dari fenomena ini bervariasi mulai dari timbulnya getaran pada sistem sampai pecahnya dinding pipa akibat besarnya gelombang tekanan yang terjadi.

                   Penelitian ini untuk mengatahui besarnya kenaikan tekanan akibat water hammer dan berapa besar nilai tegangan statis dan dinamis pada pipa keluaran pompa serta memberikan penyelesaian atau solusi pada perusahaan agar mengurangi dampak dari water hammer.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa waterhammer menimbulkan terjadinya peningkatan tekanan dan nilai tegangan. Cara mengurangi dampak dari penaikan tekanan dan tegagan dengan dipasangnya akumulator. Dan hasil penelitiian menunjukkan pemasangan akumulator mengakibatkan penaikan tekanan dan tegangan akibat water hammer berkurang.

ANALISA PRESSURE DROP ALIRAN UDARA SUPLAY ASH

REINJECTION DARI SECONDARY AIR FAN MENUJU BOILER

BANK HOPPER DAN ECONOMIZER HOPPER PADA BS-40 BOILER PLTU TANJUNG BALAI KARIMUN

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Bangun Ibrohim Nur Alam1*, Projek Priyonggo SL, ST., MT2, Ekky Nur Budiyanto, SST., MT3

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia3

Email: bangunibrohim@gmail.com1*; projek_me@yahoo.co.id2*; ekkynurbudiyanto@gmail.com3*;

Abstrak

Boiler BS-40 pada PLTU Tanjung Balai Karimun merupakan salah satu produk PT Dinamika Energitama Nusantara yang menggunakan fly ash reinjection sistem untuk mengoptimasikan bahan bakar fosil (batubara). Dalam unit ini, butiran abu batubara yang belum terbakar habis dikumpulkan di boiler bank hopper dan economizer hopper kemudian ditiup oleh secondary air fan agar dapat kembali ke dalam furnace. Saat proses pemindahan butiran batubara, butiran batubara yang dipindahkan sering kali tidak mencapai tempat tujuan dan berhenti di jalur perpipaan yang mengakibatakan butiran batubara menumpuk dan menyebabkan kebuntuan. Analisa pressure drop aliran udara suplay ash injection system pada jalur perpipaan dari secondary air fan menuju boiler bank hopper dan economizer hopper diperlukan unntuk mengetahui nilai pressure drop, metodologi yang digunakan antara lain mempelajari teori-teori yang berhubungan dengan pressure drop, lalu melakukan pengolahan data yang terdiri dari menghitung besar nilai pressure drop yang terjadi dalam aliran dan pressure yang dibutuhkan untuk menentukan pemilihan fan, blower atau kompresor. Hasil yang didapatkan dari perhitungan data awal yaitu terdapat pressure drop pada jalur outlet secondary air fan menuju tee1 sebesar 37729,09 Pa dan tekanan inlet fan sebesar 4982 Pa. Sehingga dapat  disimpulkan data awal tidak dapat memenuhi kebutuhan pressure karena nilai pressure drop lebih besar dari pada inlet pressure. Maka perlu dilakukan perubahan inlet pressure menggunakan kompresor dengan nilai inlet pressure sebesar 200000  Pa dan nilai perhitungan total pressure drop sebesar 154589,95 Pa, sehingga dapat disimpulkan pressure sudah terpenuhi.

Kata kunci: Pressure drop, fan, blower, kompresor

 

Abstrack

Boiler BS – 40  on the power plant Tanjung Balai Karimun is one of the products of PT Dinamika Energitama Nusantara which uses fly ash reinjection system to optimize the fossil fuel (coal). In this unit, granulated coal ash that has not burned out collected in the boiler bank hopper and economizer hopper and then blown by the secondary air fan to get back into the furnace. When the moving procces granular coal, coal transferred often do not arrive at destination and stopped in the piping that can make coal granules accumulate and cause a deadlock. Analysis of pressure drop air flow supply ash injection system on the piping of the secondary air fan to the boiler bank hopper and economizer hopper is required to determine the value of pressure drop, the methodology used, are others studying the theories related to pressure drop, and then are data processing that consists of counting large the value of pressure drop that occurs in the flow and pressure needed to determine the selection of fan, blower or compressor. The results obtained from the calculation of preliminary data that there is pressure drop on the secondary air fan outlet path towards tee1 of 37729.09 Pa and fan inlet pressure of 4982 Pa. It can be concluded early data can not meet the needs of pressure because the pressure drop value is greater than the inlet pressure. It is necessary to change the inlet pressure using a compressor with a value of 200000 Pa inlet pressure and pressure drop calculation of the total value of 154,589.95 Pa, so that it can be concluded pressure has been fulfilled.

Keyword : Pressure drop, fan, blower, Compresor

 

Pengaruh Water Hammer Pada Sistem Pendistribusian Avtur Terhadap Penentuan  Surge Absorber (Studi Kasus di PPFHST3 Bandara Soekarno-Hatta Jakarta)

 

Cahya Adi Prasetya1, Priyo Agus Setiawan2, Edi Haryono3

 

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesaia

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesaia

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesaia

Email: cahyaadi29@yahoo.com

 

 

 

ABSTRAK

Water hammer adalah fenomena fluida transien yang disebabkan karena perubahan kondisi aliran didalam pipa saat suatu sistem beroperasi, pada kasus ini, perubahan kondisi aliran disebabkan karena buka tutupnya valve saat pengisian bahan bakar pesawat telah selesai. Water hammer yang tidak terkendali dapat berakibat buruk pada instalasi sistem perpipaan, untuk itu  didalam instalasi sistem perpipaan perlu dipasang surge absorber untuk meredam efek water hammer.Tugas akhir ini bertujuan untuk menentukan volume surge absorber yang dipilih pada sistem pendistribusian avtur di terminal 3 bandara Soetta telah sesuai untuk mencegah water hammer yang terjadi akibat buka tutupnya hydrant pit valve dengan menentukan banyaknya hydrant pit valve yang diperbolehkan tertutup secara bersamaan. Kajian ini dilakukan dengan cara menghitung besarnya kenaikan tekanan akibat buka tutupnya hydrant pit  valve secara bersamaan untuk menentukan  kebutuhan volume gas surge absorber dan  membuat beberapa skenario jumlah penutupan hydrant pit valve. Dari hasil kajian yang telah dilakukan diketahui bahwa surge absorber yang terpasang pada sistem perpipaan pendistribusian avtur di terminal 3 memiliki kapasitas volume gas surge absorber 151,41 liter dan memiliki design pressure 18,96 bar sedangkan untuk batas aman dari jumlah penutupan hydrant pit valve, surge absorber hanya mampu meredam kenaikan tekanan sebanyak 7 hydrant pit valve yang ditutup secara bersamaan.

Keyword: water hammer, surge absorber, avtur, hydrant pit valve                                                                                 

 

ABSTRACT

Water hammer is a fluid phenomenon transients caused by changes in the flow conditions inside the pipe when an operating system, in this case, changes in flow conditions caused by a closed valve during refueling aircraft had been completed. Uncontrolled water hammer can adversely impact the installation of piping systems, for it is in the installation of piping systems need to be installed surge absorber to dampen the effects of water hammer and protect pipes from water hammer itself. This final project aims to determine the volume surge absorber selected in the distribution system of aviation fuel at the terminal 3 airport Soetta been appropriate to prevent water hammer caused by opening the lid hydrant pit valves to determine the number of hydrant pit valves that allowed closed simultaneously to find the safe limits of the aviation fuel distribution system. The study was conducted by calculating the magnitude of the increase in pressure due to the lid open pit hydrant valve simultaneously to determine the need for gas volume surge absorber and make some scenarios the number of pit hydrant valve closure . From the results of studies that have been made known that the surge absorber installed on the distribution piping system of aviation fuel at the terminal 3 has a capacity surge absorber gas volume 151.41 liters and has a design pressure 18.96 bar while the safe limit of the number of pit closures hydrant valve , surge absorber is only capable of reducing the pressure rise as much as 7 hydrant pit valves are closed simultaneously .

Keyword : water hammer, surge absorber, avtur, hydrant pit valve

ANALISA PENGARUH WATER HAMMER PADA PIPA SPRAY HP BY PASS TURBIN SETELAH BOILER MENGALAMI TRIP

 

  1. Prayogi Panggayuh Bagus 1*, Heroe Poernomo ST., MT 2, Nopem AriwiyonoST., MT 3

 

Mahasiswa, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Dosen, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Dosen, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: m.prayogi@engineer.com1*. hroe_p@poltera.ac.id2*. nopem.ppns@gmail.com3*

 

 

AbstrakAplikasi system perpipaan untuk mentransfer fluida banyak kita jumpai dalam dunia industri. pada fenomena water hammer pada pipa Spray HP By Pass turbin  merupakan salah satu parameter yang harus diperhitungkan. Fenomena ini terjadi karena adanya kenaikan gelombang tekanan yang dapat menyebabkan nilai positif maupun negatif. Dampak dari fenomena ini bervariasi mulai dari dapat menyebabkan pergeseran pada support pipa sebesar 5 cm, menimbulkan vibrasi, memperpendek umur peralatan, serta dengan konsekuensi seluruh sistem peralatan harus mati total (shutdown).Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui besarnya distribusi tekanan akibat water hammer pada pipa spray HP By Pass turbin.Analisa tegangan,beban statis dan beban dinamis yang terjadi disimulasikan menggunakan software. Untuk memberikan penyelesaian atau solusi pada perusahaan agar tidak mengalami water hammer kembali.Dari hasil perhitungan diketahui bahwa kenaikan tekanan akibat water hammer sebesar 2661,32 psi. Nilai tegangan dari beban menunjukan bahwa analisis dinamis memiliki nilai lebih besar daripada analisis statis. Untuk mereduksi getaran akibat water hammer dapat dilakukan desain ulang jarak antar support. Sehingga support dapat menyerap vibrasi yang terjadi pada pipa.

.

Kata kunci: water hammer, Pipa Spray Hp By Passturbine ,didtribusi tekanan,software.

Evaluasi Sistem Ducting Kamar Mesin KMP Binaul 150GT

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

 

Ahmad Eko Pambudi 1*, Dr. M. Anis Mustaghfirin,ST., MT. 2, Bambang Antoko,ST., MT. 3

 

Mahasiswa, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Dosen Pembimbing 1, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Dosen Pembimbing 2, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: eko10011994@gmail.com1*mustaghfirin@gmail.com2*; Bambanganotoko@gmail.com3*;

 

Abstrak

KMP Binaul adalah kapal baru milik Kementrian Perhubungan yang berkapasitas 150GT berjenis Ro-Ro ferry. Kapal ini melayani penyeberangan antar pulau di Pontianak. Kamar mesin pada kapal ini adalah bagian yang paling penting, karena di dalamnya terdapat main engine sebagai penggerak utama, serta equipment-equipment penujang lainnya seperti pompa. Saat semua equipment beroperasi, maka setiap equipment akan melepaskan panas, jika udara di dalam kamar mesin tidak disirkulasi akan mengakibatkan kenaikan temperatur, maka dari itu diperlukannya sistem ventilasi mekanik. Berdasarkan permasalahan di atas perlu adanya analisa ventilasi udara mekanik pada kondisi desain awal. Sistem ventilasi menghasilkan aliran sirkulasi udara yang dapat mengganti udara panas dengan udara segar dari luar yang mana dapat menjaga temperatur tetap konstan. Menurut ISO 8861:1998 untuk temperatur maksimal kamar mesin yang diperbolehkan yaitu 45 °C, sehingga diperlukan analisa menggunakan computational fluid dynamic untuk menganalisa distribusi temperatur ketika mmenggunakan sistem ducting yang telah terpasang. Hasil simulasi menunjukan bahwa kapasitas fan sebesar 4000 cmh melebihi temperatur standard  yang ditetapkan oleh ISO pada kamar mesin. Nilai temperature maksimal hasil modeling kamar mesin yaitu sebesar 46 °C. Dengan variasi kapasitas fan sebesar 4500 cmh dan 5500 cmh menyebabkan penurunan temperatur dari 46 °C menjadi 39 °C dan 38 °C.

 

Kata Kunci: Computational fluid dynamic, Kamar Mesin, KMP BINAUL 150GT, Sistem ducting.

 

 

Abstract

KMP Binaul is a new ship belongs to the Ministry of Transportation capacity 150GT type Ro-Ro ferry. This vessel serves crossings between islands in Pontianak. Engine rooms on this ship is the most important part, because it constitutes the main engine as the prime mover, as well as equipments such as pumps. When all the equipment is operating, each equipment will release heat, if the air in the engine room is not recirculated will lead to increase temperature, and therefore the need for mechanical ventilation system. Based on the above problems is need for mechanical air ventilation analysis in the early design conditions. Ventilation systems generate a stream of air circulation can replace hot air with fresh air from outside which can keep the temperature constant. According to ISO 8861: 1998 for the maximum temperature allowed engine room is 45 ° C, so it is necessary to use computational fluid dynamic analysis to analyze temperature distribution when mmenggunakan ducting system is installed. The simulation results showed that its capacity of 4000 cmh fan can not meet temperature standards set by ISO in the engine room. Maximum temperature value is 46 ° C. Variations fan capacity for 4500 and 5500 cmh cmh causes a decrease in temperature from 46 ° C to 39 ° C and 38 ° C.

Keyword: Computational fluid dynamic, Machine Room, KMP BINAUL 150GT, ducting system.

 

EVALUASI PERBANDINGAN DISTRIBUSI UDARA PETI DENGAN SALURAN UDARA TUNGGAL DI KAPAL TERNAK 1200 DWT

(STUDY KASUS KM.CAMARA NUSANTAR 1)

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

 

Misbahuddin Ardiansyah1*,Ir. Eko Julianto,M.Sc.,MRINA2, Sudiyono,S.T.,M.T3

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Indonsia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Indonsia2*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Indonsia3*

e_mail: ardi45ppns@gmail.com*

 

Abstract  Saluran udara di kapal ternak adalah sebuah sistem yang digunakan untuk mengalirkan udara yang berasal dari fan dengan tujuan untuk mempertahankan kelembaman udara dan membuang contaminant di dalam ruang muat ternak. Di geladak dasar alas ganda terdapat ruang muat ternak yang berkapasitas 74 ekor sapi. Suplai udara  menggunakan sistem ventilasi mekanis.Terdapat dua jenis saluran udara yang digunakan untuk mendistribusikan udara di dalam ruang muat ternak yakni saluran udara tunggal dengan penampang bundar dan saluran udara peti dengan penampang kotak. Ketidak tepatan dalam pemilihan jenis saluran udara dapat menyebabkan distribusi udara yang kurang di dalam ruang muat ternak dan mengakibatkan ternak yang diangkut mengalami setres. Dari permasalahan di atas perlu adanya evaluasi perbandingan unjuk kerja antara saluran udara peti dengan saluran udara tunggal.Hasil simulasi menunjukan bahwah saluran udara tunggal cenderung lebih unggul daripada saluran udara peti untuk mendistribusikan udara di ruang muat ternak. Pada saluran udara peti dapat menghasilkan temperatur rata – rata di ruang geladak dasar alas ganda sebesar 300,8 0K atau 27,7 0C,RH (Rasio Humidity) 70%,nilai THI sebesar 76 dengan nilai kecepatan outlet tertinggi sebesar 13 m/s , sedangkan pada saluran udara tunggal menghasilkan temperatur rata – rata di ruangan sebesar 296,2 0K atau 23 0C,RH 70% pada nilai kecepatan tertinggi di lubang outlet sebesar 14 m/s dengan nilai THI 72 yang merupakan temperatur dan kelembaban realtif yang nyaman untuk sapi perah

Kata Kunci : computational fluid dynamic,distribusi udara ,sistem saluran udara peti dan saluran udara tunggal

 

AbstractThe duct in the livestock vessel is a system use to drain the air source from fan with aim to sustain the air and remove contaminant inertia in the load space of livestock. On the deck there is a double pedestal base load space with a capacity of 74 cattle. Air supply is using mechanical ventilation system. There are two types of air duct use to distribute the air in the load space cattle are rond duct and rectangular duct. inaccuracy to choice of the duct can cause less air distribution in the cargo hold cattle and cause cattle transportion experience stress. Of issue need to be their comparative evaluaton of the performance of the rectangular duct and round duct.Simulation result showed that round duct tends superior than rectangular duct in the cargo hold livestock. In the rectangular duct can create produce temperature averages in deck double pedestal base of 300,8 0K or 27,7 0C,RH (Rasio Humidity) 70%,value THI of 76 with outlet velocity of 13 m/s, while round duct produces averages temperature at a whopping 296,2 0K or 23 0C,RH 70% in the value of highest speed in the outlet hole is 14 m/s with value THI 72 which is temperature and relative humidity are comfortable for fries holland.

 

Keywords: computational fluid dynamic,air distribution,round duct and rectangular duct systems.

Analisa Kegagalan Primary Superheater Tube pada Berbagai Kondisi

Operasi dengan CFD Software di PLTU Unit 1 Pembangkit Jawa-Bali

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Moch. Syarifudin Ali 1*, Dr. M. Anis Mustaghfirin,ST., MT. 2, Pekik Mahardhika, SST.,MT. 3

Mahasiswa, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1* Dosen, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Dosen, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: pudenali2@gmail.com1*mustaghfirin@gmail.com2*; pekikdhika02@gmail.com3*;

Abstract

Superheater is one of the modules contained in the boiler that serves producing superheated highpressure steam, so that the possible failure is very small so as not to interfere with the operation. This research was carried out on the problems faced by the superheater module that is on the primary superheater outlet tube wall thinning and creep damage at the power plant Unit 1 PT.PJB UP Gresik. Analysis approach with CFD (Computational Fluid Dynamics) and Static Structure for possible location of the failure to see the distribution of the flow (finite volume) and distribution of stress (finite element) on the module primary superheater tube, estimated service life / life time at various operating conditions , as well as solutions that can reduce the possibility of failure on the primary superheater module. From the results of CFD simulation, obtained failure due flow distribution flow received each tube is not the same where possible with the flow of flow on the inlet side 73.2 ton / h, 68.43 ton / h, and 66.31 tons / h and the large temperature and pressure at the top of the tube too large 523.47 ° C which is becoming critical zone on the primary superheater tube for 5.56e + 7 Pa. From the results strengthen the hypothesis with the static structural stress equivalent minimum located in areas with a large failure 4.38e + 7 Pa. Therefore we can conclude the internal pressure is greater than the external pressure so that the tube rupture (creep) damage.

Keyword: CFD software, creep damage, primary superheater,STBA 42

 

PERANCANGAN BOILER TIPE FIRETUBE UNTUK PENYULINGAN MINYAK ATSIRI

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

 

Tabah Godha W.1*, Dr. M. Anis Mustagfirin, ST., MT.2, M. Miftachul Munir, ST, MT.3

 

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: tabahsam@gmail.com1*mustagfirin@gmail.com2*; masmunir@gmail.com3*;

 

 

Abstrak

Minyak atsiri adalah ekstrak alami dari jenis tumbuhan tertentu, baik berasal dari daun, bunga, kayu, biji-bijian bahkan putik bunga. Di Kabupaten Trenggalek terdapat budidaya dan penyulingan minyak atsiri yang masih menggunakan metode sederhana (sistem kukus). Metode penyulingan minyak atsiri ada 3, yaitu : metode rebus, metode kukus dan metode uap langsung (boiler). Sistem penyulingan dengan metode uap langsung menjamin kesempurnaan produksi minyak atsiri daripada sistem rebus dan kukus. Oleh karena itu perlu dilakukan desain perencanaan boiler.Pada tugas akhir ini, akan membahas tipe boiler yang sesuai untuk penyulingan minyak atsiri, merancang konstruksi boiler jenis vertical firetube boiler dengan bahan bakar limbah daun nilam.Boiler merupakan alat yang digunakan untuk menghasilkan uap/steam untuk berbagai keperluan, diantaranya proses penyulingan minyak atsiri. Pada proses perencanaan boiler, ditentukkan terlebih dahulu besarnya tekanan desain, temperatur desain, serta kapasitas. Kemudian dilakukan perhitungan secara manual dan membuat detail drawing.Hasil dari penelitian didapatkan spesifikasi boiler jenis Vertical firetube boiler dengan tekanan operasi 4,5 bar dan tekanan perancangan 6,5 bar. Boiler dengan diameter adalah  800 mm, didalamnya terdapat pipa api dengan diameter 50,8 mm yang berjumlah 6 buah. Material yang digunakan untuk shell (badan boiler) dan tubesheet adalah (SA-240 Grade 347H) dan untuk pipa (firetube) yaitu (SA-213 Grade 347H). Untuk tebal yang sesuai spesifikasi tersebut adalah 0,25 inch untuk tebal shell (badan boiler),0,043 inch untuk tebal pipa (firetube), 0375 inch untuk tebal tubesheet. Nilai nucleate boiling sebesar dan pipa yang di butuhkan berjumlah 6 buah.

               

Kata Kunci : Minyak Atsiri, Penyulingan, Boiler

Perancangan Exhaust Gas Pipe dari Engine Room ke Heat Recovery Steam Generator (HRSG) di PLTD Sakato Timor Leste

 

Febri Nuansa 1*, Sudiyono2, Nora Amelia Novitrie3

 

Mahasiswa, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Dosen, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Dosen, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: febri.nuansa@rocketmail.com1*emaildospem1@gmail.com2*; emaildospem2@gmail.com3*;

 

Abstract

                Diesel engine is one of the driving mechanics are often used as an electrical energy generation for capacity either in small or large. In operation engines can produce exhaust gas is more often discharged directly into the environment with temperatures ranging from 500oC. With the Heat Recovery Steam Generator (HRSG) exhaust gas can be used to drive a turbine generator with the help of heating up like a burner.To channel the exhaust gases from the engine to the HRSG required to maintain piping pressure and temperature of the flue gas with the addition of insulation. In design of the system requires mineral wool insulation of 4.17 in and produce a back pressure of 3.37 kPa, in accordance with the value of allowable back pressure in project guide and do not interfere with engine performance. To maintain the level of security system, stress analysis carried out in accordance with ASME B31.1. By analyzing the stress value at 480oC temperature pipe known that the pipes have over stress on expansion in some segments, for the modification of the design by adding expansion bellows in the piping system. With these changes the stress obtained the greatest expansion occurred in the segment 4 with a value of 23832.7 psi. To stress due sustained load and occasional load place during the largest segment 4 with a value of 7281.9 psi, and stress due to wind and earthquake occsaional respectively 10220 and 10359 psi. Third stress is still below the allowable stress according ASME B31.1 and is considered safe to operate.

 

 

Keyword: Diesel engine, exhaust gas transfer, HRSG, high temperature process, insulation, stress analysis, pipng design. CAESAR II

 

Desain Compact Heat ExchangerFin and Tube” pada Jalur Pipa Hot Primary Air dengan Pemanfaatan Fluida Panas

dari Innert Steam

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

 

Alvian Jorghi Pratama P., Muhammad Shah, Nora Amelia Novietrie

 

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesaia

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesaia

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesaia

Email: vian.jorghi@gmail.com

 

 

ABSTRAK

PLTU Paiton II adalah perusahaan pembangkit listrik milik swasta di bawah naungan PT. Jawa Power.yang terletak di daerah Paiton Probolinggo. Pembangkit listrikinimempunyai2unitboiler yaitu unit 5 & 6yang masing masing menghasilkan energi listrik sebesar610 MW. Pembangkit listrik menggunakan batu bara sebagai bahan baku pembakaran didalam furnace boiler. Tujuan dari penulisan ini adalah memanfaatkan steam dari jalur pipa innert steam  yang digunakan untuk memanaskan udara dari PA Fan dengan mendesign compact heat exchanger type fin and tube agar batu bara sebagai bahan bakar yang dikirim bersama udara lebih cepat terkirim menuju furnace boiler.Metodologi yangdigunakanpadatugasakhiriniantaralainmelakukan optimalisasi steam dari jalur innert steam yang bersumber dari LTSH (Low Temperature Superheater) yang dinamakan innert steam, steam  dimanfaatkan sebagai fluida panas pada heat exchanger. Data-data operasi diambil dari suatu perusahaan pembangkit tenaga listrik yaitu pada control room PT YTL Jawa Timur yang dijadikan objek studi. Perhitungan design heat exchanger dengan metode ∆TLMTD. Setelah mendapat dimensi yang sesuai dengan panas yang diinginkan, maka dilakukanlah analisa performansi yaitu nilai efektifitas.Hasilyangdidapatkandaripenyelesaian studi kasusiniadalah dimensi compact heat exchanger yang memiliki spesifikasi sesuai, dengan panjang fin 2 meter, lebar fin 1 meter dan panjang tube 2 meter. Hasil analisa performansi (efektifitas) terhadap variasi beban yaitu semakin tinggi pembebanan maka nilai efektifitas juga semakin tinggi.

Keyword: Innert steam, Desain compact heat exchanger, fin and tube, ∆TLMTD

ABSTRAC

Paiton II is a privately owned power generation companies under PT. Java Power.yang located in Paiton, Probolinggo. The power plant has two boiler units are units 5 and 6, which respectively produce electrical energy by 610 MW. The power plant uses coal as raw material combustion in boiler furnace. The purpose of this paper is to utilize steam of inert pipelines steam used to heat the air from PA Fan with the design of compact heat exchanger fin and tube type that coal as a fuel that was sent with the air more quickly sent to the furnace boiler.The methodology used in this thesis include optimizing steam from steam inert lines are sourced from LTSH (Low Temperature Superheater) called inert steam, steam is used as the hot fluid in the heat exchanger. The data is taken from an operating power company that is in the control room PT YTL Jawa Timur, as object of study. Heat exchanger design calculation methods ΔTLMTD. After obtaining the dimensions corresponding to the desired heat, we conducted performance analysis of a value effectiveness.Results obtained from the settlement of this case study is the dimension of compact heat exchanger which has a corresponding specification, with a fin length of 2 meters, 1 meters wide fin and tube length of 2 meters. The results of the performance analysis (effectiveness) against load variations, namely the higher the load, the value is also higher effectiveness.

Keyword: Innert steam, Design compact heat exchanger, fin and tube, ∆TLMTD

DESAIN SISTEM PERPIPAAN DAN INSULASI PADA JALUR INERTING STEAM MENUJU HEAT EXCHANGER (STUDI KASUS PADA SEBUAH PERUSAHAAN PEMBANGKIT LISTRIK)

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

 

Luqman Al Habsy(1)*, Projek Priyonggo, SL.,ST., MT. 2, Nora Amelia Novitrie ST., MT. 3

 

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: Luqmanalhabsy@gmail.com*Projek_me@yahoo.co.id2*; Noranovitrie@yahoo.com3*;

 

 

 

AbstrakPipa inerting steam pada PLTU paiton unit 5 dan 6 digunakan untuk mengalirkan steam menuju mill dengan temperatur 350 oC. Pada temperatur uap tersebut dapat dimanfaatkan untuk pemanasan awal pada PA fan yang fungsinya untuk mempercepat pemanasan udara ketika start awal boiler.. Dalam perancangan pipa inerting steam perlu dilakukan dengan baik untuk menghasilakan perancangan yang sesuai standart dan agar tidak terjadi kehilangan panas yang berlebihan. Perancangan perpipaan mengacu pada standart ASME B31.1. Dilakukan pemilihan bahan insulasi yang sesuai untuk menentukan bahan yang paling tepat dalam mengurangi kehilangan panas. Perancangan dilakukan dengan menghitung jumlah kehilangan panas menggunakan insulasi dengan ketebalan variable untuk menghemat energi panas yang terbuang. Proses perancangan dilakukan pada suhu 350 ºC. Tujuan dari penulisan ini adalah mendesign sistem perpipaan sesuai standart dan menganalisa untuk menentukan jenis – jenis insulasi yang tepat untuk mengurangi panas yang hilang. Serta mengetahui cara penghitungan jumlah panas yang hilang sepanjang jalur pipa yang terpasang insulasi

Kata kunci : desain system perpipaan, heat loss, perpindahan panas, insulasi

PEMODELAN MIXING SUSPENSION DEVICE UNTUK ALTERNATIF PENGIRIMAN CRUDE OIL YANG MEMILIKI POUR POINT TINGGI

( STUDI KASUS PERTAMINA EP TANJUNG FIELD)

 

 

 

Nofi Efendi1*, M. Anis Mustagfirin2, Sudiyono3

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Indonsia*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Indonsia*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Indonsia*

e_mail: efendinofi93@gmail.com*,anismustaghfirin@gmail.com2.sudiyono@yahoo.com

AbstractKarakteristik dari crude oil merupakan parameter yang sangat diperhatikan dalam transportasi crude oil, seperti yang terjadi Pertamina Exploration and Production (EP) Tanjung Field yang memiliki crude oil dengan pour point tinggi, karena titik beku dari minyak Tanjung yang tinggi maka muncul banyak masalah salah satunya adalah mudahnya minyak membeku dalam temperature ambient. Penelitian ini akan memodelkan modul mixing suspension device yang berfungsi sebagai pembentuk oil in water suspension dari crude oil dan air. Pemodelan menggunakan metode CFD dengan menggunakan sofware Fluent ANSYS 14.5.

Hasil dari penelitian yang didapat menunjukkan pola aliran pada desain dengan 16 adalah slug  sedangkan desain 24 lubang memiliki pola aliran core annular flow. Pressure drop yang terjadi menunjukknan bahwa desain 24 lubang lebih kecil dengan nilai 2.28 psi sedangkan untuk 16 lubang sebesar 39.847 psi. Volume fraction dari crude oil yang terjadi menunjukkan hal yang sebaliknya pada desain existing lebih bagus yaitu 20%-50% sedangkan hasil pada desain baru hanya berkisar antara 10%-40%.Karena nilai volume fracion yang semakin berkurang maka dilakukan inovasi dengan menamnah lubang tetapi dengan luasan tetap dan hasilnya pola aliran adalah core annular flow of two dispersion dengan nilai volume fraction 30%-60%

.Kata Kunci : Mixing Suspension Device, oil in water suspension, crude oil.pourpoint tinggi

Analisa Mal-Uniformity Distribusi Aliran Steam Melalui Header Superheater

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Mohamad Farizal Abdillah 1*, Dr. M. Anis Mustaghfirin,ST., MT. 2, Muhammad Shah,ST., MT. 3

Mahasiswa, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Dosen, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Dosen, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: farizal.abdillah@gmail.com1*; mustaghfirin@gmail.com2*; muh.shah59@yahoo.com3*;

Abstract

                Distribusi aliran berperan penting dalam komponen di dalam ketel uap (boiler), salah satu komponen pada boiler yang dipengaruhi oleh distribusi aliran adalah superheater. Superheater berperan sebagai perubah fase dari saturated steam menjadi superheated.. Dalam penelitian ini dilakukan satu kondisi awal yang dianalisa menggunakan metode antara lain analisa akibat mal-uniformity distribusi aliran steam pada bagian superheater header tipe pendant / horizontal menggunakan kalkulasi pressure drop dan pemodelan Computized Fluid Dynamics (CFD) pada Ansys Fluent 14.5. Kemudian dibandingkan dengan modifikasi pada inside diameter untuk menjadi rekomendasi pada header superheater. Dengan temperatur dan tekanan rancangan sebesar 405°C dan 62,76 bar. Hasil kalkulasi pressure drop sebesar 93129,25247 Pa dan analisa menggunakan ANSYS FLUENT 14.5 pada kondisi awal terjadi ketidakseragaman distribusi aliran (mal-uniformity). Maka dilakukan dua variasi model inside diameter header superheater didapati desain yang memiliki keseragaman distribusi aliran (uniformity) dengan dilakukan pergantian inside diameter NPS 8” SCH 140.

Keyword: Boiler Bimasakti-40, Superheater, header superheater, configuration header superheater, mal-uniformity, flow distribusion.

 

ANALISA KEGAGALAN DAN PERKIRAAN UMUR SISA WALL TUBE PADA BOILER UNIT 2 DI PLTU 1 JAWA TIMUR PACITAN

(STUDI KASIS PLTU 1 JATIM PACITAN)

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

 

Tito Darla Ambono Putro (1)*, Edi Hariyono, ST., MT. 2, Nora Amelia Novitrie ST., MT. 3

 

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: putrotidar@gmail.com*Email@email.com2*; Email@email.com3*;

 

 

AbstrakPeranan boiler sangat penting pada pembangkitan listrik di PLTU 1 Jatim Pacitan. Salah satu bagian terpenting adalah water-wall tube panel. Saat ini kondisi pembangkit listrik tenaga uap telah beroperasi selama 3 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, telah terjadi kegagalan fungsi pada water-wall tube ( Baja karbon menengah ASME B&PV SA-210 C ) yaitu pengikisan pada dinding luar pipa (metal loss) yang disebabkan long-term overheating di left wall of furnace panel. Tujuan  dari  penelitian  ini  adalah untuk  dapat  mempelajari mekanisme  kegagalan dan nilai umur  sisa  pada  tube  dengan melakukan  pengamatan  metalography, komposisi  kimia  sehingga diharapkan nantinya  sebagai  pertimbangan  dalam pencegahan  dan  perawatan  untuk menghindari kebocoran tube yang serupa.

Metode yang dilakukan pengamatan yakni meliputi pengukuran ketebalan, analisa perhitungan tegangan von mises, analisa komposisi kimia dan pengujian mekanikal yaitu tensile test, hardness test dan metallography. Sedangkan untuk perkiraan umur sisa, dilakukan metode berdasarkan gambar struktur mikro Mardianto dan perhitungan rumus pendekatan Toft and Madsen Dari hasil tersebut diketahui bahwa gagalnya water wall tube diawali dengan adanya kenaikan kandungan karbon sebesar 0,028%, pada pengujian tarik terjadi kenaikan kuat tarik rata-rata sebesar 48,6 Mpa dan kenaikan nilai kekerasan outside surface sebesar 6,89 HBN kemudian disertai dengan temperatur yang semakin meningkat dan tegangan internal tube meyebabkan kinerja material menurun maka luasan penampang tube tidak mampu lagi menahan beban sehingga kegagalan pun terjadi. Kegagalan ini disebabkan deformasi plastis secara permanen hingga material luluh dan dari hasil perkiraan sisa umur tubes berdasarkan uji metalografi dan perhitungan rumus pendekatan Toft and Madsen adalah 881,12 jam atau sama dengan 1,2 bulan.

 

Kata Kunci : Baja karbon menengah SA-210 C, long-term overheating,  mekanisme  kegagalan, perkiraan umur sisa.

 

image_printPrint to PDF
IMG_1604

DESIGN AND STRESS ANALYSIS

Analisis Potensi Upheaval Buckling di 10”-CH-PG-032 Trunkline dari SPG Kuang ke SPG Pakugajah pada Pakugajah Development Project (PGDP)

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Asywida Fahmi1*, Mardi Santoso2*, Adi Wirawan Husodo3*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia2*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia3*

Email: fahmyasywida@gmail.com ; mardisantoso@gmail.com ; awhusodo@gmail.com

ABSTRACT

The following article describes potention analysis of upheaval buckling in Pakugajah Development Project (PGDP)10”-CH-PG-032 trunkline located at Prabumulih, South Sumatera. The analysis is performed due to significant change of service temperature of trunkline and soil trench imperfection where the trunkline is buried. There are 3 kinds of method that is used to analyze the upheaval buckling potential, such as manual calculation, stress simulation in CAESAR and Finite Element Method (FEM) of trunkline against buoyancy force in ANSYS. Stress checking, effective axial force and soil friction force calculation are performed in manual calculation. Entire section of trunkline is simulated in CAESAR and run with various trench depth of buried trunkline and load cases. ANSYS modelling is performed in this research to analyze the effect of buoyancy force due to trunkline crosses the river and drainage. The manual calculation result shows the trunkline is experiencing upheaval buckling. However, both CAESAR and ANSYS simulation results yield to normal condition.

 

Keyword: trunkline, buckling, buoyancy, simulation, ANSYS, CAESAR, underground pipeline

ABSTRAK

Artikel penelitian ini menjelaskan analisis potensi upheaval buckling di Pakugajah Development Project (PGDP) 10”-CH-PG-032 trunkline di Prabumulih, Sumatera Selatan. Analisis ini dilakukan dikarenakan perubahan signifikan dari temperatur servis trunkline dan ketidak rataan permukaan tanah dimana trunkline tersebut dikubur. Ada 3 metode yang digunkan untuk menganalisa potensi upheaval buckling, yaitu perhitungan manual, simulasi tegangan di CAESAR dan Metode Elemen Hingga dari trunkline terhadap gaya angkat di ANSYS. Pemeriksaan tegangan, perhitungan gaya aksial efektif dan gaya friksi tanah dilakukan pada perhitungan manual. Keseluruhan bagian trunkline disimulasikan di CAESAR dan di dianalisa menggunakan variasi kedalaman penguburan tanah dan kondisi pembebanan. Pemodelan ANSYS dilakukan pada penelitian ini untuk menganalisa efek dari gaya angkat yang diakibatkan dari trunkline yang melewati sungai dan drainase. Hasil perhitungan manual menunjukkan trunkline mengalami upheaval buckling. Namun, hasil simulasi CAESAR dan ANSYS menunjukkan bahwa trunkline tersebut berada pada kondisi normal.

 

Kata kunci: trunkline, buckling, buoyancy, simulation, ANSYS, CAESAR, underground pipeline

DESAIN PIPELINE CROSSING HIGHWAYS PADA JARINGAN PIPA PENYALUR GAS

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

 

Wahyu Adi Nuryono1*, Adi Wirawan Husodo 2*, Daisy Dwijati K. R. A.3*

 

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: wahyu_ad13@yahoo.com1*; adi_wirawan@ppns.ac.id2*,daisy.dwijati@gmail.com3*;

ABSTRAK

                Desain awal pipeline crossing pada KP 0+019 MRS Japanan melebihi ketentuan yang tertera pada standard API RP 1102. Tugas Akhir ini bertujuan untuk menganalisa kemampuan desain pipeline crossing dengan beberapa elevasi yang telah ditentukan dan tanpa menggunakan casing. Tegangan akibat internal load, live load dan earth load dianalisa berdasarkan standar API RP 1102. Tegangan akibat sustained load dan occasional load dianalisa berdasarkan ASME B31.8. Analisa fatigue juga dilakukan untuk  menentukan jumlah siklus yang mampu diterima segmen pipeline crossing pada bagian grid weld.. Berdasarkan hasil perhitungan dan analisa tegangan efektif pada pipeline crossing menunjukkan bahwa semakin dalam elevasi maka semakin rendah nilai tegangannya.  Sebaliknya berdasarkan hasil perhitungan tegangan akibat sustained load dan occasional load menyatakan bahwa semakin dalam elevasi mengakibatkan tegangan yang terjadi semakin besar.

 

Kata Kunci : pipe crossing, uncasing pipe, sustained load, occasional load, fatigue analysis

 

ABSTRACT

                Pipeline Crossing Highways Design On Gas Transportation Pipeline. The earlier design of the pipeline crossing at KP 0+019 exceeds the provisions in the API RP 1102standard. This final project aims to analyze the pipeline crossing design capability with some certain elevation and uncasing pipe. Stress due to internal load, live load and earth load is analyzed by API RP 1102 standard. Stress due to sustained load and occasional load is analyzed based on ASME B31.8 standard. Fatigue analysis is also carried out to determine the number of cycles accepted by pipeline crossing segment at the grid weld.. Based on the calculation and analysis of effective stress on the pipeline crossing indicates that the deeper elevation, the lower the value of the stress. Otherwise, based on the calculation result of sustained load stress and occasional load shows that the deeper elevation resulted in stress that occurs the greater.

 

Keyword : pipe crossing, uncasing pipe, sustained load, occasional load, fatigue analysis

Desain Jalur Pipa H2SO4 dari Storage F 403 menuju Storage F 501 Sebagai Alat Alternatif Alat Angkut Pada Proses ASP

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

 

Rizka Nita Febriana 1*, Heroe Poernomo, 2*, Ekky Nur Budiyanto 3*

 

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3*

Email: rizkanitafeb@gmail.com1*heroe_p@na.its.ac.id2*; ekkynrbudiyanto@gmail.com3*;

ABSTRAK

Produksi asam sulfat (H2SO4) adalah salah satu produk yang dihasilkan oleh Pabrik di Gresik. Salah satu kegunaan asam sulfat yaitu untuk bahan campuran produksi Aluminium sulfat (Al2SO4) di ASP (Aluminium Sulfate Production). Fakta yang terjadi di lapangan, pengiriman H2SO4 selama ini menggunakan alat angkut yaitu truk kapasitas 21.000 kg, maka perlu dicarikan alternatif.Pada  Tugas Akhir ini akan dibahas mengenai desain alternatif jalur pipa untuk mendistribusikan H2SO4 dari storage F 403 menuju F 501 sebagai alternatif alat angkut pada proses ASP. Pembahasan secara khusus dilakukan perhitungan untuk pemilihan material pipa, pemilihan pompa, dan nilai ekonomis untuk desain jalur pipa alternatif. Fluida yang mengalir adalah H2SO4dengan temperatur 40°C dan tekanan sebesar 99,93 psi.Dari hasil pengolahan data dan analisa data, dapat disimpulkan bahwa HDPE adalah material yang digunakan untuk desain jalur alternatif distribusi H2SO4. Pompa yang digunakan memiliki kapasitas head max 33,9 m. Nilai ekonomis untuk desain jalur alternatif relatif mahal diawal dibandingkan dengan alat angkut yaitu sebesar

 

Kata kunci : H2SO4, HDPE, Pompa, Perhitungan Ekonomis

 

ABSTRACT

                    Production of sulfuric acid (H2SO4) is one of the products produced by a factory in Gresik. One which uses sulfuric acid for the production of aluminum sulphate mixture (Al2SO4) in ASP (Aluminum Sulfate Production). The fact that happened on the field, this time using H2SO4 delivery conveyance truck capacity is 21,000 kg, then we need to look alternatif.Pada final project will be discussed on an alternative design a pipeline to distribute H2SO4 from storage to the F 501 F 403 as an alternative means of transport on ASP process. The discussion is specifically performed calculations for pipe material selection, selection of pumps, and the economic value to the design of an alternative pipeline. The flowing fluid is H2SO4 at a temperature of 40 ° C and a pressure of 99.93 psi.Dari the data processing and analysis of data, it can be concluded that HDPE is the material used for the design of the alternative pathway of distribution H2SO4. Pumps used has a capacity of max head 33.9 m. The economic value to the design of the alternative pathway is relatively expensive compared to the beginning of conveyance is equal

Keyword : H2SO4, HDPE, Pump, Economic Calculation

Desain Support pada Line Pipa Suction dan Discharge Centrifugal Pump

107-JD di Pabrik Amonia PT. Petrokimia Gresik

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

 

Wiha Nurtakim 1*, Adi Wirawan Husodo 2, M. Choirul Rizal 3

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Indonesia 1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Indonesia 2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Indonesia 3

Email :Wihatakim@ymail.com1*: aw.husodo@gmail.com

 

ABSTRAK

Untuk meunjang proses produksi di pabrik amonia di PT. Petrokimia Gresik diperlukan penambahan pompa yang secara otomatis juga akan menambah line pipa baru. Line pipa ini di ambil dari pipa existing ammonia carbonate berdiameter 20 inch menuju pipa existing ammonia carbonate berdiameter 16 inch. Rooting pipa telah dilakukan oleh unit pemeliharaan pabrik satu, dimana kondisi sekitar area line sudah sangat penuh sesak dengan bangunan maupun line pipa lainnya. Pada penelitian ini akan dilakukan analisa dan perhitungan nilai tegangan pada pipa mengacu pada  standard ASME B313.3. Selanjutnya akan dilakukan analisa beban nozzle pompa mengacu pada standard API 610. Perhitungan ini mengacu pada desain rekomendasi dari pihak perusahaan. Hasil perhitungan tegangan pada desain rekomendasi baik manual dan software keduanya masih dibawah allowable stress material SAME B31.3.Penambahan support dilakukan dikarenakan pada analisa nozzle load API 610 untuk persamaan F.12a, F.12b, F.12c ketiganya tidak memenuhi persyaratan. Dengan ditambahkan 2 support pada line suction dan 2 support pada line discharge persamaan pada API 610 dapat terpenuhi.

Kata kunci : PT. Petrokimia Gresik, Amonia, API 610, Jalur pipa, Centrifugal pump

ABSTRACT

To support the production process at the plant ammonia in PT. PKG required the addition of a pump that automatically will also add a new pipe line. Line pipe is taken from the existing pipeline ammonia carbonate 20 inch diameter pipeline to the existing 16-inch diameter ammonia carbonate. Rooting pipe has been done by the maintenance unit of the plant, where conditions around the line area is already very crowded with buildings or other pipe line. This research will be analysis and calculation of the value of the voltage on the pipeline refers to the standard ASME B313.3. Next will be the analysis of the pump nozzle load refers to the standard API 610. This calculation refers to the design of the company’s recommendation. The results of stress calculations on both manual design recommendation and software are both still below the allowable stress SAME B31.3.Penambahan material support are made due to the nozzle load analysis API 610 for F.12a equation, F.12b, F.12c three did not meet the requirements. With added 2 support on the suction line and second line support on discharge equation on the API 610 can be met.

Keyword : PT. Petrokimia Gresik, Amonia, API 610, Jalur pipa, Centrifugal pump, ASME B31.3

Desain Media Perlindungan Pipeline Crossing Pada Jaringan Pipa Gas KIM-KEK di KM 33 (Studi Kasus di PT. TEGMA Engineering)

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Achmad Rizqy Maulana Ishaq1*, Adi Wirawan Husodo2, Pekik Mahardhika3

 

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia3

Email: Rizqymaulanaa@ymail.com1*: aw.husodo@gmail.com2: pekikmahardhika02@gmail.com3

 

 

ABSTRAK

Jaringan pipa gas pada KM 33 dari KIM (Kawasan Industri Medan) menuju KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) (crossing) atau melewati area pembangunan jalan tol pada Sta. 43+900 dengan lebar area pengerjaan jalan tol sebesar 94,28 m. Pada Tugas Akhir ini dilakukan desain media perlindungan pipeline crossing menggunakan pipe casing dan slab concrete dengan tujuan memberikan referensi bagi perusahaan atau pemilik proyek. Perhitungan yang dilakukan meliputi perhitungan nilai tegangan akibat beban tanah, beban hidup, beban internal, tegangan efektif dan perhitungan kebutuhan ekonomis. Perhitungan tegangan dan kebutuhan ekonomis yang dilakukan pada kondisi pipa tanpa pelindung (kondisi eksisting), pipa dengan pelindung berupa pipe casing dan pipa dengan pelindung slab concrete. Besar nilai tegangan terkecil terjadi pada kondisi pipa dengan media pelindung pipe casing. Besar nilai kebutuhan ekonomis terkecil terjadi pada kondisi pipa dengan media pelindung slab concrete. Semua nilai besar tegangan yang terjadi pada setiap kondisi pipa yang telah disebutkan, dibawah batas nilai tegangan ijin material pipa. Faktor kedalaman tanah memiliki pengaruh terhadap besar nilai tegangan yang terjadi pada material pipa. Semakin dalam pipa terbenam di dalam tanah semakin besar tegangan yang terjadi akibat beban tanah dan semakin kecil tegangan yang terjadi akibat beban hidup, begitu juga sebaliknya.   

 

Kata kunci: pipeline crossing, jalan tol, pipe casing, slab concrete, beban tanah, beban hidup, beban internal, tegangan efektif

 

ABSTRACT

The installation of pipeline at KM 33 from KIM (Kawasan Industri Medan) to KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) is crossing or across with the area of highways construction at Sta. 43+900 with right of way about 94,28 m. In this final project going to do design of the protection for pipeline crossing using pipe casing and slab concrete, purposed to give the reference to the company or this project owner. Calculation that to do consist of calculation of stress due to earth load, live load, internal load, effective stress and the economical requirements. Calculation of the stress and the economical requirements that to do at the uncased pipe, cased pipe and uncased pipe with slab concrete condition. The lower value of stress its happened at the pipe that protect using pipe casing. The lower value of economical requirements its happened at the pipe that protect using slab concrete. All value of stress that happened at the every condition pipe that mentioned is under the value of allowable stress from the material of pipe. The depth of burried pipe factor have effect against the value of stress that happened in the material of pipe. More depth the pipe that burried in the earth more higher the value of the stress due to earth load and more lower the stress due to live load, vice versa.        

 

Key words : pipeline crossing, highways, pipe casing, slab concrete, earth load, live load, internal load, effective stress

Studi Teknis Kelayakan Desain Buried Pipe Menembus Sungai Terhadap Proyek Beban Operasi dan Instalasi Pada Proyek MRS Japanan

 

Adhimas Candra Wicaksono1*, Heroe Poernomo2, Nurvita Arumsari3

 

Program Studi D4 Teknik Perpipaan, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

                                             Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia2                   

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia3

Email: adhmsc@gmail.com1*

 

AbstrakPipeline MRS Japanan distribusi gas pada KP.0+150 akan melintasi sungai dengan kedalaman sungai 4 m. Pada Tugas Akhir ini dilakukan analisa teknis kelayakan desain pipa gas bawah tanah menembus sungai terhadap beban operasional dan instalasi pada proyek MRS Japanan dengan tujuan memberikan referensi bagi terhadap tingkat keamanan desain. Perhitungan buoyancy dilakukan dengan 4 kondisi yaitu kondisi instalasi tanpa timbunan tanah dan dengan timbunan tanah, serta kondisi operasi dengan timbunan tanah dan tanpa timbunan tanah. Perhitungan ovality dilakukan dengan 4 kondisi yaitu pada kedalaman 5,85 m, 2,01 m, 2,03 m, dan 2,11 m. Perhitungan tegangan longitudinal mengikuti Standar ASME B31.8. Hasil perhitungan buoyancy untuk kondisi operasi dan instalasi tanpa timbunan tanah mengakibatkan pipa akan mengalami buoyancy, sedangkan pada kondisi operasi dan instalasi dengan timbunan tanah pipa akan stabil pada dasar sungai. Besar nilai ovality terbesar terletak pada kondisi dengan kedalaman 5,85 m, dan nilai ovality terkecil terletak pada kedalaman 2,01 m. Semua nilai ovality tersebut berada pada batas ijin ovality. Besar nilai tegangan longitudinal yang disebutkan di atas juga berada pada batas ijin sesuai dengan standar ASME B31.8. Semakin dalam timbunan tanah yang digunakan untuk instalasi maka semakin besar beban eksternal yang berakibat semakin besar nilai ovality, semakin kecil timbunan tanah yang digunakan untuk instalasi semakin kecil beban eksternal yang berakibat semakin kecil nilai ovality.

 

Kata kunci: pipeline , sungai, buoyancy, ovality, beban eksternal, tegangan longitudinal ASME B31.8.

 

MRS Japanan gas distribution pipeline in KP.0+150 would cross the river with a water depth of 4 m. In this final project going to do technical analysis of buried pipe across river toward operational load and installation load at the Project MRS Japanan  to give the reference for analysis pipeline crossing river safety level. Buoyancy calculation is doing with 4 conditions there are installation condition without 2 m backfill and with 2 m backfill, and also operational condition without 2 m backfill and with 2 m backfill. Ovaliy calculation is doing with 4 conditions there are in depth 5,85 m, 2,01 m, 2,03 m, and 2,11 m. Effectife longitudinal stress calculation is following ASME B31.8 standard. Result for buoyancy calculation without backfill 2 m causes pipe will buoyance, while with backfill 2 m pipe will not buoyance. The largest ovality happen in depth of cover 5,85 m and the smallest ovality happen in depth of cover 2,01 m. All the value of ovality occur in permissible value of ovality. The effective longitudinal stress is also occur in maximum allowable stressas in ASME B31.8.

 

Key words : pipeline, river, pipe buoyancy, ovality, external load, effective longitudinal stress ASME B31.8

Analysis Stress DesignExpansion Loophorizontal&Expansion z-bend Pada PipingWater Spray Gas Cooling Tower System PT.Indocement Bogor

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Ahmad Syakhowi Al Jauhar1, Mardi Santoso, ST, M.Eng, Sc.2,Nurvita Arumsari.,Msi.3.

 

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia3

Email: aljauhar_owiek@yahoo.com1* , Arum.up.3d@gmail .com2*

ABSTRACT

Design piping water spray system. GCT (Gas Cooling Tower) raw mill need piping system with have high  fleksibility. The height of piping spray instalation is 58 meter from suction pump, it can supply water (48.4 m3/h), the support of piping water spray system will move, because of that the piping water spray system need expansion horizontal loop dan expansion z-bend exsisting to reduce over stress and buckling. This final project is analistical expansion Horizontal loop dan Z-bend loop to know the stress because of load still in standart limitation from ASME B31.3

To resolve problem in pragraf one we using software caesar II 5.0 and manual calculation to know pipe span and how much strees in pipe.

Strees and fleksiblitas loop from both  expansion loop desaign.with sofware calculation,  All load (sustain loads, occasional and thermal loads) have most stress (16097,67 Psi). That stress still not more than limitation stress base on ASME B 31.3 standart.the desaign of horizontal loop will be optimalitation for get new design with have little stress from existing design.

 

 

Key word:Expansion loop Horizontal, Expansion Z-bend, Analysis stress sustained, Occasional, Thermal expansion, Support.

PERANCANGAN BURIEDPIPE 12” UNTUK PENGIRIMAN LIMBAH WATER PRODUCE DI PT. PERTAMINA EP TANJUNG FIELD

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Hamzah Saifuddin Al Farizi1*, George Endri Kusuma2, Daisy Dwijati K.R.A 3

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesi,2*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia,3*

Email: hamzahsaifuddin@gmail.com1*; kusuma.george@gmail.com2*;daisy.dwijati@gmail.com3*

 

ABSTRACT

Water produce transmission line from prime collector station Manunggul to water injection plantoften leaks and cracks because of design factor and environment so that it disturbs the oil well injection process and harms its surroundings. Based on this problem, a pipeline must be designed so that water produce transmission can flow smoothly and safely. The Buried pipeline must refer to mining and energy ministerial decree on chapter 1, section 7 subsection 2. It states that “pipa transmisi gas dan pipa induk yang digelar di daratan wajib ditanam dengan kedalaman minimal 1 meter dari permukaan tanah”. Beside that the line must obey the rules on chapter 23 about  its risk and solution for pipe leakage.

Based on the rules, the line design must be according  to the field condition and then it is analyzed with standard API 1102, ASCE and ASME B31.4. Based on analysis by using manual calculation, the line will be designed with software caesar 2. Then every critical line will be analyzed too. Corrosion protective method used is sacrafical anode cathodic protection. The anode used is Magnesium (Mg) that has been determined its  protection lifetime and its distance among the anodes. Finally the pipeline design will be joined with anodes placement in pipe.

The analysis result using caesar software is there is an overstress in pipe so the method to reduce axial stress and bending stress is necessary. The best solution for this case is replacing it with material API 5L-X70, but its bending stress is still higher than the allowable one so that the pipe must use guided cantilever method. Then overstress pipe will be bent into Z bend shape so that it suits to the rules. Based on the manual calculation, all lines are safe from deflection, not higher than allowable stress and 152 anodes can be placed in every 43 m along the pipeline.

Keywords : Buried Pipeline, API 1102, ASCE 2001, ASME B31.4, Stress analysis, Guided Cqntilever Methode, Sacrafical Anode Cathodic Protection.

Pemodelan Sistem Pemompaan Minyak Mentah dari PPP Manunggul menuju SB Batubutok: Variasi pada Studi Kasus di PT PERTAMINA EP Tanjung Field

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Ali Jubaidi1*, R. Dimas Endro W., S.T., M.T.2, Ika Erawati, S.S., M.Pd. 3

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: alijubaidi33@gmail.com1*dimasendro@gmail.com2*; ik4_iqer@yahoo.com3*

Abstrak

Oil in water suspension merupakan teknologi pengiriman minyak mentah dari PPP Manunggul menuju RU 5 Balikpapan menggunakan media pipeline. Oil in water suspension terdiri dari partikel yang membeku dengan ukuran-ukuran yang berbeda di dalam media air sebagai lapisan diantara partikel-partikel padat tersebut dan external water layer yang membatasi antara suspensi dengan dinding pipa bagian sebelah dalam.

Aliran dua fase yang diharapkan terjadi di oil in water suspension adalah aliran heterogen dengan terbentuk external water layer. Namun hanya aliran homogen yang mampu terbentuk. Sehingga membutuhkan penanganan agar aliran dapat terjaga secara stabil. Desain ulang dilakukan untuk mengetahui faktor apa saja yang mampu mempertahankan aliran dalam keadaan stabil.Pada penelitian ini terjadi pressure drop dengan angka paling tinggi pada simulasi pemompaan minyak 4,2% air 95,8% yaitu 448,85 Pa.

Kata kunci: Suspensi, pipeline, dua fase,  homogeny.

 

Abstract

Oil in water suspension technology is a crude oil deliveries from PPP Manunggul toward RU 5 Balikpapan using a media pipeline. Oil in water suspension consists of particles that freezes with different sizes in aqueous media as a layer between the solid particles and external water layer that limits the suspension with the inner part of the pipe wall .

Two-phase flow which expected to occur in the oil in water suspension is a heterogeneous flow with water to form an external layer. However, only a homogeneous flow which is able to form. Thus the need for treatment so that the flow can be maintained stably . Redesign conducted to determine what factors are able to maintain the flow in a stable condition . In this research possible pressure drop with the highest number of pumping simulated oil 4.2% and with 95.8% water is 448.85 Pa.

Keyword: Suspension, pipeline, two fase,  homogeny.

Perancangan Buried Pipeline Fuel Hydrant System Terminal 4 Bandara Soekarno-Hatta

 

 

Dwi Irwanto1*, George Endri K2, Nurvita Arumsari3

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Indonesia*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Indonesia*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Indonesia*

Email: dwiirwanto17@gmail.com1, myswasthi@gmail.com2”, Arum.up3d@gmail.com3”

 

Abtract_Fuel Hydrant System is distribution system of aircraft fuel by draining the fuel from storage area (DPPU) to each aircraft gate parking by using a pipe buried. The advantage of this system is ensuring the availability of fuels with a sufficient amount at the airport.

The purpose of this final project is to get a secure system design of pipe appropriate with code existing to Fuel Hydrant System terminal 4 airport and analyze the stress  of the design Fuel Hydrant System terminal 4 Soekarno-Hatta especially in the critical line. Specification of the pipe in piping systems buried should be designed capable of withstanding a wide range of live load, dead load and the operating pressure of the pipeline. The allowable stress of pipe must not exceed the provisions of ASME B31.4 about pipeline Tranfortation System for Liquid Hydrocarbons and Other Liquid.

According to the National Fire Protection Association (NFPA) 407 about Aircraft Fuel Servicing, point 4.4.10.3 Fueling hydrant, cabinets, and pits should be placed at least 15.2 m from the terminal building, hangars, service building, or enclosed passenger concourse (other than loading bridges ). Slope used is 1 meter between valve chamber . The results of pipe buried design fuel hydrant system terminal 4 Soekarno- Hatta  airport, the stress value obtained by the burial of the pipeline. Burial of the pipe taken from 118.11 inch to 157.48 inch. In the header burial pipe with a 118.11 inch , the stress on the pipe is 29637,36 psi, while the burial of 157.48 inch is 25852,82 psi. At the burial of branch pipe with a 118.11 inch the stress on the pipe is 24960,68 psi, while the burial of 157.48 inch is 20196,2 psi. From the results of stress that may occur can be obtained meterial specifications for pipe header, meterial pipes used Api 5L grade B scedule 40 as much as 12048 meter. For branch pipe, material pipes used Api 5L grade B schedule 60 as much as 5287 meters. Elbow 45 header pipe is 242 units. Elbow 90 header pipe is 28 units. Elbow 45 branch pipeline is 88 units. Elbow 90 branch pipe is 176 units. Weldolet 20 x 8″ is 176 units.

 

Key Word : Buried pipe, Stress, Fuel Hydrant System, Airport, Design

PENGARUH TRANSISI UNDERGROUND DAN ABOVEGROUND PIPELINE TERHADAP PROSES PIGGING

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Wahyu Tantra Fauzi1*, R. Dimas Endro W. S.T., MT.2, Heroe Poernomo S.T., MT.3

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia3

Email: wahyutantra09@gmail.com1*dimasend@yahoo.com2*; heroepurnomo@gmail.com3*;

AbstrakPipeline merupakan fasilitas untuk menyalurkan fluida cair maupun gas dari stasiun pengirim menuju stasiun penerima dengan menggunakan jaringan pipa (pipeline).Dalam penggunaannya, pipeline ada yang ditanam di bawah tanah (underground) dan ada yang di pasang di atas tanah(aboveground), ada pula memasang pipeline di bawah dan di atas tanah sehingga adanya transisi antara pipeline tersebut. Pada tugas akhir ini membahas pemilihan sudut yang optimal mengacu dari nilai tegangan dan pengaruh pipa transisi terhadap kecepatan dan tekanan pig. Hasil perhitungan tegangan berdasarkan sudut yang ditentukan (5°. 15°, 30°, 45°, dan 60°) diperoleh pada sudut 5° tegangan yang terjadi sebesar 1326,5 psi: sudut 15° tegangan yang terjadi 1243,8 psi; sudut 30° tegangan yang terjadi 976,8 psi; sudut 45° teganganyang terjadi 626,7 psi; sudut 60° tegangan yang terjadi 297,4 psi. Dengan demikian dapat disimpulkansudut yang optimal yaitu sudut 60° karena tegangan yang terjadi paling kecil. Hasil pemodelan software menunjukkan bahwa dengan adanya pipa transisi gradien tekanan yang terjadi mengalami perubahan atau tidak konstan, hal tersebut dikarenakan kemungkinan adanya tumbukan di area radius pipa ketika posisi pipa lurus ke pipa belok yang mengakibatkan konsentrasi tekanan meningkat di area tumbukan

Kata Kunci :Pipeline, tegangan, pigging, sudut optimal, transisi pipa, pemodelan, ansys 14.5.

Abstract– Pipeline is a facility to channel liquid or gas fluid from the sending station to the receiving station using the pipeline. In use, the pipeline there is planted in the basement (underground) and there are in pairs on the ground (aboveground), there is also installing a pipeline under and above the ground so that the transition between the pipeline.In this thesis discusses the selection of the optimal angle of the reference stress values and the effect of the transition pipe to and pressure of pig. The results of stress calculations based on the point specified (5 °, 15 °, 30 °, 45 °, and 60 °) was obtained at an angle of 5 ° stress that occurs at 1326.5 psi: 15 ° angle of the stress that occurs 1243.8 psi; 30 ° angle stress that occurs 976.8 psi; 45 ° stress that occurs 626.7 psi; angle of 60 ° stress that occurs 297.4 psi. It can be concluded that the optimum angle is an angle of 60 ° because the stress that occurs most small. Software modeling results indicate that the presence of a transition pipe pressure gradient occurs changing or is not constant, it is because the possibility of a collision in the area of the radius of the pipe when the position of the straight pipe to pipe turns that lead concentrations increased pressure in the collision area.


Keywords: Pipeline, stress, pigging, the optimum angle, transition pipe, modeling, ANSYS 14.5.

Analisa Desain Expansion Loop Pada Penggantian Pipa Transfer Amoniak (NH3) Diameter 8 Inchi Dari Tangki Penyimpanan Menuju Pelabuhan PT.Petrokimia Gresik

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Arwin Dahril Narendra1*, R.Dimas Endro Witjonarko, ST, MT.2, Mardi Santoso, ST, M.Eng, Sc.3

 

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia3

Email: arwinnarendra@gmail.com1*, dimasend@yahoo.com2, mardisantoso@gmail.com3

ABSTRAK

PT.Petrokimia Gresikberencanamelakukanpenggantianpipatransfer Amoniakberukuran 8”.GeneralArrangementdanroutingpipa daridesainlama akandirubah.Halini tentunyaperlu dilakukananalisakhususnyadari sisi fleksibilitas atautegangan. Pada penelitian inidilakukananalisadesainexpansionloop pada pipatransferamoniak 8” denganmenggunakanpemodelan SoftwareCAESARII.Pemasangan expansion loop diperlukan untuk mengurangi tegangan akibat beban ekspansi.Jalur pipa lurus sepanjang 1Km dipilih untuk dipasang expansion loop.Pertimbangkan yang harus diperhatikan antara lain jumlah expansion loop yang akan dipasang, pemilihan jenis expansion loop dan pemilihan jenis support.Desain yang dipakai adalah expansion loop bentuk vertical dan U bend loop.Perbedaan keduanya adalah dimensi dari radius elbow.Vertical loop memakai 1,5 X NPS sedangkan U bend loop menggunakan 5 X NPS.Dari kedua desain tersebut nantinya akan dilakukan analisa tegangan dan displacement sehingga akan diketahui expansion loop mana yang menghasilkan tegangan terkecil.

Kata Kunci: Analisa Tegangan, Ekspansi Termal, Penyangga Pipa,U bend loop, Vertical loop.

ABSTRACT

PT.Petrokimia Gresik planning a transfer pipe replacement ammonia with diameter 8Inch.The general arrangement and routing will be changed.It’s of course need to analyze in terms of stress and flexibiliy.In this reseach, analysis of the expansion loop design on the ammonia transfer pipe by use modeling software CAESARII.Instalation of expansion loop is needed to reduce stress due to the load along 1Km expansion thermal.The consider for instalation expansion loop must be considered including the number of loop, position and selection support and kind of loop.The design in this research is used form vertical loop and U bend loop.The different of both is size of elboq radius.Vertical loop use 1,5 x NPS or 12 inch of radius.While U bend loop use 5 x NPS or 40inch of radius.Both of design will be analysis of stress and displacement.So from the results, will known wich loop will produces the smallest stress.

Keywords :Pipe Support, Stress Analysis, Thermal Expansion, U bend loop, Vertical loop.

 

 

REDESAIN JALUR PIPA LNG PADA BOG LINE 24LNG5010 – 26”– PD1B di PT BADAK LNG BONTANG

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Deni Setia Kurniawan 1*, Edi Haryono2, Emie Santoso3

Mahasiswa, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Dosen, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Dosen, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: denisetia304@yahoo.com1*rusta.edo@gmail.com2*; emie.santoso@gmail.com3*;

ABSTRAK

BOG (Boil Of Gas) line system berfungsi untuk menjaga tekanan tangki dan memanfaatkan vapour LNG yang terbentuk dari tangki maupun kapal sebagai bahan bakar pada boiler. BOG terbentuk dari sisa LNG yang tidak ikut mengalir ketika proses unloading LNG sehingga sisa LNG akan menguap dan membentuk BOG. expansion bellows yang terpasang berfungsi untuk meningkatkan fleksibilitas pada sistem perpipaan. Namun, expansion bellows mengalami kerusakan (kebocoran) sebelum waktu yang ditentukan. Studi terdahulu telah melakukan inovasi dengan menggunakan expansion loop sebagai pengganti fungsi expansion bellows, dengan alasan ketersediaan lahan yang memadai dan metode penelitian yang digunakan hanya menganalisa dari tegangan yang terjadi pada line number tersebut.

Tugas akhir kali ini membahas pengaruh penggantian expansion bellow dengan expansion loop terhadap penurunan tekanan atau pressure drop. Penurunan tekanan berdampak pada fluida BOG yang masuk pada suction compresor yang harus berupa saturated vapour untuk menjaga agar kompresor tidak mengalami kerusakan. Untuk mengetahui aliran di dalam pipa yang berupa saturated vapour maka dilakukan perhitungan manual dan simulasi software ANSYS 14.5 untuk mengetahui fluida dalam pipa tersebut.

Hasil dari perhitungan menunjukkan bahwa penurunan tekanan yang terjadi sebelum perubahan desain sebesar 1125,840 Pa, setelah dilakukan perubahan desain terjadi kenaikan pressure drop yaitu variasi desain expansion loop 1 sebesar 2085,372 Pa, desain expansion loop 2 sebesar 2758,961 Pa, desain expansion loop 3 sebesar 2045,627. Nilai tekanan yang terjadi setelah dilakukan variasi desain expansion loop mengalami penurunan yaitu pada desain expansion loop 1 sebesar 341147,377 Pa, desain expansion loop 2 sebesar 340574,675 Pa, desain expansion loop 3 sebesar 341187,122 Pa.  Berdasarkan standart minimum tekanan yang masuk suction compressor yaitu 6864,655 Pa, penurunan tekanan masih memenuhi syarat.. . 

Kata kunci :expansion bellow, expansion loop, pressure drop, suction compressor

STUDI PERANCANGAN PIPELINE DARI DPPU KE TERMINAL 3, BANDARA SOEKARNO-HATTA, JAKARTA

 

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Prasetyo Budi Utomo1*, George Endri Kusuma, S.T., M.Sc.eng.2, Nurvita Arumsari, S.Si., M.Si3

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*2*3*

Email: Prasetyo.Budi.ok@gmail.com1*; Kusuma.george@gmail.com2*; Arum@PPNS.ac.id3*;

ABSTRACT This design was made because there is expand project from this airport which using for international terminal in Soekarno Hatta airport. That in this project doing to apply pipe fuel hydrant system to supply fuel (avtur) in terminal 3 which expect to operate 24 hours. From this condition, is need a good pipeline and apropriate with standard, So plan result can be applied and operated.This Final project was focused  in design a good pipeline and completed the criteria from ASME B31.4 “Pipeline transportation system for liquid hydrocarbons and other liquids”. And this final project processing doing stress analysys which will compare with acceptance criteria ASME B31.4. This pipeline will be applied at road, so the standard design used API 1102 “Steel Pipelines Crossing railroads and Highways” At this planner doing wheel load variation in buried pipe condition, because is vehicle may be across to some of the area. This has purpose to guaranteed if this plan can hold load which will accross the pipeline. This plan result was planed based on route condition from pipeline and refer from ASME B31.4 and API 1102. With buried pipeline condition used material API 5 L Sch 40, can hold the effect from the highest load (truck wheel load). From that hight load, the pipe are safe from ring deflection, ring buckling and Crushing Side wall. While the result of simulation from Software Caesar II, the stresses at pipe that happen are completed acceptance criteria ASME B31.4 standard. While the result of pipenet software simulation with accelerate closed valve variation 40 sec, 15 sec and 5 sec increase of internal pressure is not to significant, So the pipeline was safe from overpressure.

Keyword: Stress Analysis, Buried Pipeline, ASME B31.4, API 1102

Studi Teknis dan Ekonomis Desain Pipa Casing Fiber

Optic (FOC) dengan Metode Horizontal

Directional Drilling (HDD)

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Aman Abdurrohim 1*, George Endri Kusuma 2, M. Choirul Rizal 3

Mahasiswa, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Dosen, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Dosen, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: amanabdurrohim@gmail.com1*myswasthi@gmail.com2*; mochammadchoirulrizal@yahoo.com3*;

ABSTRACT

                Pipelines which is located on land occasionally fording rivers, railway crossings and highways. The use of horizontal directional drilling (HDD) is generally used to track the pipeline that this condition. In the present case the pipeline path that passes through Belawan river should be the method of horizontal directional drilling (HDD. Pertagas that build gas pipelines from Belawan, Medan to Kawasan Industri Medan (KIM) and Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), North Sumatra.

Final Project was conducted technical and economic calculations based on variations in the depth of casing pipes from riverbeds and modeling to determine the major stress on the pipe and using  software Abaqus 6.12.

Technical Calculation results produced two alternative design is the most appropriate design for the installation of fiber optic cable casing pipe. The result of the calculation is also stated that all the voltage value on each lane HDD is still below the allowable voltage based on the reference PRCI. Based on analysis of cost calculations obtained HDPE material most appropriate for the installation of fiber optic cable casing pipe. Calculation of costs on two design alternatives obtainable cost of Rp 20,104,500. HDD installation costs for design alternatives HDD 2 with a path length of 401 m was obtained cost 4,028,045,000. Selection of the proper design and materials according to technical and economic calculations for the installation of fiber optic cable casing pipe is a design using HDD 2 with a path length of 401 m and using HDPE material

Keyword: High Density Polyethylene (HDPE), Horizontal Directional Drilling (HDD), Pull back,Pull force.

 

 

 

image_printPrint to PDF
IMG_1604

PIPING MATERIAL, MANUFACTURE, AND PROJECT MANAGEMENT

PENGARUH TINGKAT DEFORMASI PLASTIS MATERIAL STAINLESS STEEL 304 L TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN LAJU KOROSI SULFUR TEMPERATUR 120°C

Prodi Teknik Perpipaan Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik

Perkapalan Negeri Surabaya

Fahd Albani Muhammad1*, Budi Prasojo2, Ir. M.M.Eko Prayitno3

Mahasiswa, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia3

Email: fahdalbani2@gmail.com1*budiprasojo1968@gmail.com2*; mmekop@yahoo.com3*;

Abstrak – Asam sulfat H2SO4 merupakan salah satu produk yang dihasilkan PT. X. Permasalahan yang paling dihindari dalam industri kimia salah satunya adalah korosi. Fakta yang terjadi pada heating coil PT.X dengan jenis material stainless steel tipe 304 L terjadi degradasi logam pada bagian roll bend pipe. Deformasi plastis akibat pengerollan pipa pada desain heating coil menyebabkan cepat terjadi degradasi logam. Tugas akhir ini menguji ketahanan korosi dan perubahan struktur mikro material stainless steel 304 L yang telah mengalami deformasi plastis akibat proses roll. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh deformasi plastis terhadap grain size ferrite dan ketahanan proses korosi sulfur temperatur 120°C. Pada penelitian ini telah dilakukan pengujian metalografi dan korosi. Material yang digunakan adalah Stainless Steel 304 L yang telah dilakukan pekerjaan roll bend radius 400, 450, dan 500 mm. Dimana fluida pemicu korosi adalah sulfur dengan temperatur 120°C. Total waktu uji ketahanan korosi material stainless steel 304 L adalah 96 jam (empat hari). Adapun perhitungan grain size ferrite pada hasil pengujian metalografi dengan pembesaran mikroskop 100× dengan metode planimetric. Hasil pengujian korosi dan metalografi diperoleh nilai diameter butir baja stainless steel 304 L adalah 56,268μm dan laju korosi sebesar 0,761 mm/y, kemudian dilakukan proses roll dengan tingkat deformasi 1,89%  menjadi 54,673 μm  dan laju korosi 0,843 mm/y, pada tingkat deformasi 5,66% mengalami penurunan nilai diamter butir 52,72 μm dan peningkatan laju korosi 0,889 mm/y, dan pada tingkat deformasi 7,55% menjadi nilai diameter butir terendah sebesar 52,363 μm danlaju korosi tertinggi sebesar 0,909 mm/y. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, semakin besar tingkat deformasi plastis baja stainless steel 304 L akan mempengaruhi nilai diameter butir yang semakin kecil dan laju korosi yang semakin besar.

Kata kunci:Asam sulfat (H2SO4), stainless steel 304 L, deformasi plastis, diameter butir, lajukorosi
Abstract – Sulfuric acid H2SO4 was the product that produce by PT.X. The problems that most avoided in chemical industries one of them was corrosion. Fact that happe in heating coil on PT.X with type of materials stainless steel type 304 L was had degradation metal on the part of roll bend pipe. Plastic deformation cause of roll pipe process on the design of heating coil was caused the rapid degradation of metal. In this research will be tested of corrosion resistance and changes of microstructure in the material stainless steel 304 L which has been plastically deformed due to the roll process of pipe. This research was did to known of effect plastic deformation on grain size ferrite and corrosion resistance on sulfur in temperature 120° C.In this research has been tested of metalography and corrosion. Material that used in this research was stainless steel 304 L which has been done of process roll bend with the radius 400, 450 and 500 mm. Fluids that react of corrosion was sulfur within work temperature 120° C. Time test of the corrosion resistance in stainless steel 304 L was 96 hours (four days). The calculation of the grain size ferrite on result of metalography test was using software TAimage within zoom in microscope 100 times with planimetric methods.Result in this research of corrosion and metolography test be optainable value of grain diameter stainless steel 304L is 56.268 μm and the corrosion rate of 0.761 mm/y , and then do the process roll with a deformation rate of 1.89% be optainable value of the grain diameter stainless steel 54.673 μm and the corrosion rate of 0.843 mm/y , on the level deformation of 5.66% decreased the value of the grain diameter of 52.72 μm and an increase in the corrosion rate of 0.889 mm/y , and the deformation rate of 7.55% to the value of grain diameter low of 52.363 μm danlaju highest corrosion 0.909 mm/y . It can be concluded that the greater the degree of plastic deformation stainless steel 304L tested it affects the value of the grain diameter is smaller and the corrosion rate increases.

Keywords : Sulfuric acid ( H2SO4 ) , 304 L stainless steel , plastic deformation , grain diamter , corrosion rate.

ANALISA PERBANDINGAN SACP DAN ICCP SEBAGAI PROTEKSI KATODIK UNTUK UNDERGROUND TRUNKLINE PGDP

 

Destio Nooris Adam1*, Budi Prasojo2, Pekik Mahardhika3

 

Mahasiswa, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia3

Email: destio.inside@gmail.combudiprasojo1968@gmail.com; pekikmahardhika02@gmail.com;\

 

 

ABSTRAK

PGDP (Paku Gajah Development Project) adalah satu proyek pembangunan fasilitas pemurnian gas. Dalam proyek ini ada beberapa trunkline yang akan dibangun. Salah satu trunkline yang akan dibangun di proyek ini memiliki panjang 23 km, menghubungkan SPG Merbau (existing) dan SPG Paku Gajah (new). Trunkline akan dibangun di bawah tanah dan dilindungi dengan coating dan proteksi katodik. Tetapi, terdapat perbedaan antara metode proteksi katodik yang digagas oleh owner’s consultant dan main contractor. Berdasarkan feed data dari owner’s consultant, dapat dilakukan perbandingan di antara dua metode proteksi katodik yaitu SACP dan ICCP guna mengetahui metode manakah yang lebih efisien. Langkah pertama adalah dengan menghitung kebutuhan teknis, kemudian dilanjutkan dengan menghitung kebutuhan ekonomisnya. Selanjutnya, menganalisa kebutuhan teknis dan ekonomisnya dan terakhir adalah membandingkan hasil analisa dari kedua metode. Dari perhitungan, didapatlah hasil bahwa SACP membutuhkan 738 set anoda magnesium dan 12 test station box, sehingga biaya yang dibutuhkan untuk proteksi metode ini adalah sebesar Rp 1,102 milliar. Sedangkan ICCP membutuhkan 8 set anoda TI MMO, 1 set transformator rectifier, 1 set positive juncton box dan 12 set test station box, 1500 meter power cable anodes to PJB, 200 meter power cable PJB to TR, sehingga biaya yang dibutuhkan untuk proteksi metode ini adalah sebesar Rp 522,08 juta. Proteksi katodik dengan metode ICCP adalah metode yang lebih efisien untuk diterapkan di underground trunkline PGDP.

 

Kata kunci:PGDP, SPG Merbau, SPG Paku Gajah, SACP, ICCP, proteksi katodik, korosi, trunkline.

 

Efektifitas Desain Proteksi Katodik anoda tumbal pada Pipa Gas Tanam Manyar – Betoyo

 

Athif Yistian G.1*, Ir. Endah Wismawati, MT.2, Ir. MM. Eko Prayitno, M., MT.3

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: Gradyistian17@gmail.com1*Endahsaputra60@gmail.com2*; Mmekop@yahoo.com3*

ABSTRAK

Sacrificial Anode merupakan perlindungan dengan cara galvanic coupling dimana logam yang akan diproteksi dikopel dengan logam yang lebih anodik. Anoda ini disebut anoda tumbal yang nantinya akan terkorosi lebih dahulu. Dalam hal ini logam yang ditumbalkan harus mempunyai potensial yang lebih rendah dari logam utama sehingga yang terkorosi adalah logam tambahan dan logam utama akan terhambat proses korosinya. Nilai keasaman sepanjang jalur pipa rata – rata 6 yang menunjukan keasaman tanah normal. Pada basic desain engineering anoda yang akan digunakan adalah magnesium sedangkan pada penelitian kali ini akan digunakan beberapa anoda tumbal yaitu Mg, Al, dan Cr. Dari ketiga anoda tumbal tersebut nantinya akan dipilih salah satu anoda tumbal yang akan dipakai pada desain.. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai pH tanah dapat mempengaruhi besarnya nilai laju korosi.

 

Kata kunci : Sacrificial Anode, Galvanic Coupling, Korosi, Soil Resistivity, pH, Proteksi Katodik, Pipa Gas Tanam, Mg, Al, C

ABSTRACT

Sacrificial Anodes are galvanic coupling protection by means of which the metal to be protected is coupled with a more anodic metal. The anode is called a sacrificial anode that will be corroded first. In this case the metal victim should have a lower potential than the main so corroded metal is additional metal and primary metal corrosion process will be hampered. Value acidity along the pipeline average – average 6 which shows the normal acidity of the soil. In the basic engineering design of anodes to be used is magnesium whereas in the present study will use some of the sacrificial anode is Mg, Al, and Cr. The sacrificial anode of the three will be selected one sacrificial anode that will be used in the design .. The test results showed that the pH value of the soil can affect the value of the rate of corrosion.

 

Key word : Sacrificial Anode, Galvanic Coupling, corrosioni, Soil Resistivity, pH, Cathodic Protection,, Gas Pipeline, Mg, Al, Cr

Pengaruh Temperatur Aplikasi Polyethyelene BORSTAR HE-3450 terhadap Kualitas Polyethylene pada Coating 3LPE dengan Pengujian Tensile dan Impact

Muhammad Ibnu Malik 1*, Budi Prasojo 2, Pekik Mahardhika 3

Mahasiswa, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Dosen, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Dosen, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: muhammad.ibnumalik@ymail.com1*budiprasojo1968@gmail.com2*; Pekikmahardhika02@gmail.com3*;

 

ABSTRAK

Pada penelitian ini dilakukan studi tentang pengaruh temperatur aplikasi polyethylene BORSTAR HE-3450 terhadap kualitas polyethylene pada coating 3LPE dengan pengujian tensile dan impact. Penelitian ini perlu dilakukan mengingat pipa yang akan digunakan pada underground yang menggunakan coating 3LPE dituntut untuk memiliki kualitas yang baik, baik dari segi kekuatannya melindungi terhadap kontur tanah yang kasar maupun saat proses lowering dan handling, serta memiliki flexibilitas yang bagus untuk memudahkan proses aplikasi di lapangan dan dapat melindungi permukaan pipa agar tidak cepat terjadi korosi.

Pada penelitian ini memfokuskan pada pengaruh temperatur aplikasi coating 3LPE terhadap kualitas polyethylene, temperatur yang optimal dari temperatur aplikasi untuk polyethylene, dan hubungan dari temperatur aplikasi dengan hasil nilai tensile dan impact test. Dari topik yang akan dibahas seperti yang dijelaskan tersebut, dilakukan pemvariasian temperatur saat proses produksi coating 3LPE dengan variasi temperatur sebesar 220 ͦ C, 230 ͦ C, dan 240 ͦ C. Dari hasil produksi coating yang telah dilakukan variasi temperatur tersebut, selanjutnya dilakukan pengujian tensile dan impact untuk mengetahui kualitas dari polyethylene dari setiap variasi temperatur aplikasi  tersebut.

Temperatur aplikasi polyethylene pada coating 3LPE berpengaruh pada kekuatan lapisan polyethylene pada coating 3LPE yang ditinjau dari hasil pengujian tensile dan impact. Temperatur aplikasi yang optimal untuk mendapatkan nilai tensile dan hasil impact yang baik adalah sebesar 230 ͦ C. Kenaikan temperatur aplikasi polyethylene tidak berbanding lurus dengan nilai tensile dan hasil uji impact.

Kata kunci : Coating, Coating 3LPE,Polyethylene Borstar HE-3450,Tensile,Impact, Elastisitas.

 

 

 

 

 

 

ABSTRACT

In the research doing study about effect polyethylene application temperature borstar he – 3450 toward quality polyethylene for coating 3lpe with tensile and impact test. The background to do this research is pipe is apply in underground area must be have a good quality. Quality for strength to protect this pipe from extreme contour ground or to protect when lowering and handling, and then have to a good flexibility to make easy application process in field and can protect pipe surface from corrosion.

The research focus in about effect polyethylene application temperature borstar he – 3450 toward quality polyethylene, optimal temperature for application temperature polyethylene, and correlation application temperature with tensile and impact test value. Refer from this topic, will make variation on application temperature in coating 3LPE process with three variation temperature, 220 ͦ C, 230 ͦ C, and 240 ͦ C. From that condition will be test for product with tensile and impact test.

Application temperature in process coating 3LPE make effect for strength the layer polyethylene in coating 3LPE, can see from result tensile and impact test. Optimal application temperature to get a good tensile and impact value is 230 ͦ C. Rise of application temperature polyethylene not equivalent with tensile and impact test value.

 

Keywords: Coating, Coating 3LPE, Polyethylene Borstar HE-3450,Tensile, Impact, Elastisitas.

ANALISA PEMILIHAN ANODA UNTUK PROTEKSI KATODIK DENGAN METODE SACRIFICIAL ANODE PADA SPG KUANG MENUJU SPG PAKU GAJAH (CHATODIC PROTECTION)

 

Abdurachman Abdullah B.1*,  MM. Eko Prayitno2, Endah Wismawati3

 

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: bawazeer168@gmail.com1*mmekop@yahoo.com2*; endahsaputra60@gmail.com3*;

Abstrak-Jalur pipa SPG Kuang menuju SPG Paku Gajah merupakan jalur pipa  yang akan digunakan untuk mentransmisikan gas. Pipa transmisi gas ini direncanakan dibangun pada jalur bawah tanah. Jalur pipa gas akan dibangun dari SPG Kuang menuju SPG Paku Gajah yang akan dilapisi coating 3LPE dandilindungi dengan chatodic protection. Chatodic protection dan coating dilakukan untuk penanganan terhadap korosi. Proteksi katodik adalah suatu cara perlindungan terhadap korosi secara elektrokimia dimana reaksi oksidasi pada sel galvanik dikonsentrasikan pada anoda dan menghilangkan korosi pada katoda. Dalam hal ini diperlukan pemilihan anoda korban yang ideal untuk jalur pipa gas SPG Kuang menuju SPG Paku Gajah. Pemilihan anoda ini dilakukan dengan  perhitungan teknis dan anoda dipilih berdasarkan perhitungan teknis dan ekonomis yang paling ideal untuk kondisi jalur pipa gas tersebut. Anoda yang akan diproses dengan perhitungan, sebelumnya akan dipilih dengan referensi dari beberapa jurnal penelitian tentang perbandingan anoda SACP. Selanjutnya 3 anoda terpilih yaitu Al, Zn, dan Mg akan dihitung kebutuhan teknis dan ekonomisnya sampai menemukan anoda yang paling ideal untuk digunakan pada jalur pipa transmisi ini. Ditinjau dari hasil penelitian untuk perhitungan teknis dan ekonomis pipa SPG Kuang menuju SPG Paku Gajah dihasilkan jumlah anoda magnesium 45 unit  dengan berat setiap unit 7,7 kg dan total biaya Rp30.853.925,00 termasuk 2 unit test station box, untuk anoda Zinc 143 unit dengan berat setiap unit 8,2 kg dan total biaya Rp62.223.625,00 termasuk 2 unit test station box, dan untuk anoda alumunium 165 unit dengan berat setiap anoda 13,6 kg dan total biaya Rp126.642.600,00 termasuk 2 unit test station box. Dari hasil penelitiaan tersebut dapat disimpulkan anoda yang ideal secara perhitungan teknis dan ekonomis adalah anoda magnesium dengan jumlah 45 unit dan total biaya Rp30.853.925,00.

Kata Kunci :Chatodic Protection, natural gas, anoda korban, jalur pipa, SPG Kuang,

SPG Paku Gajah.

Abstract – Pipelines SPG Kuang to SPG Paku Gajah the pipeline is to be used for transmitting natural gas. The pipe transmission gas is planned built in the underground channel. Gas pipiline will be built of SPG Kuang to SPG Paku Gajah that will coated 3LPE coatings and covered by chatodic protection. Chatodic protection and  coating done  for the treatment of corrosion. Chatodic protection is a way of protection to corrosion in electrochemistry where oxidation reaction being concetrated at the anode and eliminate corrosion on cathode. In this is necessary election anode that is ideal for gas pipeline of SPG Kuang to SPG Paku Gajah. This election the anode done with technical calculations and anode chosen based on the technical and economical most ideal for the condition the gas pipeline. Anode which will be processed by calculation, formely will be chosen with reference of  several journal research on comparison anode SACP. Next three anode elected is Al, Zn, dan Mg will be processed in  technical calculation and economical  to find anode which the anode most ideal for use on the pipeline these transmissions.In terms of research results for calculation technical and economically SPG Kuang to SPG Paku Gajah produced the number of anode Magnesium 45 unit with heavy every unit 7,7 kg and the total cost Rp30.853.925,00 including 2 unit test ststion box, the anode Zinc 143 unit with heavy every unit 8,2 kg and total cost Rp62.223.625,00 including 2 unit test station box, and the anode Alumunium 165 unit with heavy every anode 13,6 kg and total the cost Rp126.642.600,00 including 2 unit test station box. From the results of these research can be review anode with ideal in calculation technical and economical is Maganesium anode with 45 unit and total cost Rp30.853.925,00.

Key words ; Chatodic Protection, natural gas, sacrificial anode, pipeline, SPG Kuang,

SPG Paku Gajah

ANALISA PENGARUH PENAMBAHAN INHIBITOR NaNO2 TERHADAP LAJU KOROSI MATERIAL CS A53 B SCH 40 DALAM SISTEM PENDINGIN FRESH WATER KM. SATYA KENCANA

 

Agung Wibowo 1*, Ir.Endah Wismawati MT2, Ir.Eko Prayitno M.MT3

 

Mahasiswa, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Dosen, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Dosen, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: agungwibowo9395@gmail.com

 

Abstract – Masalah yang sering timbul pada piping sistem adalah korosi. Salah satu penyebab terjadinya korosi pada sistem perpipaan di PT. Dharma Lautan Utama adalah karena temperatur fresh water tinggi dari panas mesin yang didinginkan. Usaha untuk meminimalisir laju korosi yang terjadi dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan penambahan inhibitor pada fresh water pendingin MAIN ENGINE yang dapat menghambat laju korosi akibat temperatur fluida. Pengujian ini menggunakan jenis inhibitor NaNO2. Tujuan dari pengujian ini untuk mengetahui pengaruh variasi inhibitor NaNO2 terhadap laju korosi dalam air tawar dengan  variasi temperatur 60 ºC, 65 ºC, 70ºC. Pengujian ini menggunakan variasi konsentrasi inhibitor 0 ppm atau tanpa penambahan inhibitor, 150 ppm, 250 ppm, 350 ppm. Spesimen pengujian berukuran 50 mm, lebar 25 mm, tebal 3 mm. Spesimen direndam dalam larutan air tawar dengan variasi temperatur 60°C, 65°C, 70°C Selama 12 jam  dengan metode weight method loss. Hasil dari pengujian menunjukkan bahwa laju korosi terbesar terdapat pada inhibitor NaNO2 dengan konsentrasi 0 ppm pada temperature 70°C dengan nilai sebesar 10,18 mpy.Sedangkan nilai laju korosi terkecil pada pengujian ini terdapat pada inhibitor NaNO2 dengan konsentrasi 350 ppm dengan temperatur 60°C sebesar 2,16. Pada segi efisiensi penggunaan inhibitor, inhibitor NaNO2 dengan konsentrasi 0 ppm atau tanpa menggunakan inhibitor memiliki nilai efisiensi terendah yaitu sebesar 0%. Sedangkan efisiensi tertinggi didapatkan pada konsentrasi 350 ppm pada temperatur 60°C yaitu sebesar 75,40%. Hasil pengujian menunjukkan laju korosi pada temperatur 70°C dengan nilai antara 3,82 mpy – 10,18 mpy. Sedangkan laju korosi yang terendah terdapat pada variasi temperatur 60°C yaitu dengan nilai antara 2,16 mpy – 8,78 mpy.

Kata kunci:Korosi, inhibitor, NaNO2, temperatur

Analisa Ekonomis Pemakaian Anoda dengan Metode Sacrificial Anoda Cathodic Protection pada Pipa API 5L gr. X52

 

Eko Wahyu Isidantoro 1*, Budi Prasojo, 2*, Raden DimasEndro W 3*

 

Mahasiswa, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Dosen, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2*

Dosen, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3*

Email: isdiantoroe@yahoo.com1*budiprasojo1968@gmail.com2*; dimasendro@gmail.com3*;

Abtrak – Pada penelitian ini dilakukan analisa ekonomis pemakaian anoda dengan metode sacrificial anode cathodic protection pada pipa API 5L gr. X52. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk merekomendasikan pemakaian jenis material anoda yang paling ekonomis pada lima jenis tanah yang sering dilalui pipa bawah tanah. Material pipa yang digunakan yaitu API 5L Gr. X-52 Schedule 60 (ketebalan 14,27 mm). Untuk penerapan di pipe line yaitu pada  pipa bawah tanah yang dilindungi dengan coating 3LPE. Disini akan dilakukan pemvariasian terhadap resistivitas lingkungan, pemilihan material anoda, NPS pipa dan panjang pipeline. Penelitian ini akan menganalisa sejauh mana pengaruh variasi resistivitas lingkungan dan pemilihan tipe anoda terhadap perhitungan kebutuhan ekonomis pada metode sacrificial anode cathodic protection. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa semakin kecil resistivitas lingkungan maka akan semakin kecil pula investasi yang harus dikeluarkan untuk pencegahan korosi metode sacrificial anode cathodic protection. Pada resistivitas 2000 ohm.cm adalah resistivitas yang memerlukan biaya investasi paling sedikit dibandingkan yang lainnya. Sedangkan anoda Alumunium (Al) adalah anoda yang memerlukan biaya paling sedikit jika dibandingkan dengan anoda Magnesium (Mg) dan Zinc (Zn).

 

Kata kunci : sacrificial anode cathodic protection, resistivitas, anoda, NPS pipa, panjang pipeline

 

Abstract – In this research, economic analysis used a anode with method Sacrificial Anode Cathodic Protection on the pipe API 5L gr. X52. This research was conducted with the objective to recommend the use of the type of anode material most economical on five types of land frequented by underground pipes. The pipe material used is API 5L Gr. X-52 Schedule 60 (thickness of 14.27 mm). For the application in the pipe line is in an underground pipe that is protected by coating 3LPE. The exercise variation for resistivity of the environment, the selection of anode material, outside pipe diameter and length of the pipeline. This study will analyze the extent to which the effect of variations in resistivity of the environment and selection of the type anode to the calculation of economic needs on a method Sacrificial Anode Cathodic Protection.The results of this study can be concluded that the smaller the resistivity of the environment it will be the smaller the investment that must be spent for corrosion prevention methods Sacrificial Anode Cathodic Protection. In 2000 ohm.cm resistivity is the resistivity requiring the least investment cost compared to others. While the anode aluminum (Al) is an anode that costs the least when compared with the anode Magnesium (Mg) and Zinc (Zn).

Keyword: sacrificial anode cathodic protection, resistivity, outside diametees, lenght pipeline

PENGARUH SUDUT LENGKUNG DAN TEMPERATURE PEMANASAN PADA BENDING PIPA A 106 NPS 2,5 INCH, SCH 80 TERHADAP NILAI KEKERASAN DAN LAJU KOROSI

 

Mochamad Chriswendy Prastyo1*, Bambang Antoko, ST.,MT 2, Fibka Bisono, SST.,MT 3

 

Mahasiswa, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Dosen, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Dosen, Politeknik  Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: c2iswendy@gmail.com

 

ABSTRAK

 

Proses bending banyak digunakan dalam proses produksi pada pipa. Proses ini akan menghasilkan peristiwa tensile dan compress, maka stress yang terjadi akan mengakibatkan perubahan sifat mekanik dari pipa tersebut dan juga pengaruh terhadap laju korosi. Deformasi yang terjadi ini akan mengakibatkan perbedaan tingkat laju korosi dan nilai kekerasan pada setiap perubahanya, yaitu dengan sudut bending yang berbeda dan juga bila proses bending tersebut diberi preheat (pemanasan awal) yang berbeda. Pada tugas akhir ini akan dilakukan penelitian dengan variabel sudut lengkung antara lain : 00, 300, 450, 600 dan 900. Dan temperature preheat antara lain : 340C(temperature ruangan), 2000C, 4000C,  dan 6000C. material yang digunakan adalah pipa A 106 NPS 2,5 inchi, dengan schedule 80 dan radius 300 mm, proses bending menggunakan metode roll bending. Dengan demikian dapat diketahui pengaruh sudut dan temperature preheat pada proses bending pipa untuk nilai kekerasan dan laju korosi untuk merencanakan keandalan dan juga waktu pakai sebuah hasil dari bending pipa supaya dapat menghindari kegagalan proses dan juga kerugian pada waktu operasi sebuah instalasi perpipaan yang terdapat pipa yang dilakukan proses bending.Hasil dari analisa pengaruh temperature preheat terhadap nilai kekerasan adalah temperature preheat yang tinggi menyebabkan menurunnya nilai kekerasan seiring dengan penambahan besar sudut lengkung dan pengaruh temperature preheat terhadap nilai laju korosi adalah pemberian preheat dapat menurunkan nilai laju korosi terutama pada temperature 2000C untuk pipa tanpa bending dan dengan bending, yang merupakan nilai terendah untuk laju korosi. Untuk pengaruh sudut lengkung terhadap nilai kekerasan adalah sudut lengkung yang besar menyebabkan menurunnya nilai kekerasan seiring dengan penambahan temperature preheat dan pengaruh sudut lengkung terhadap nilai laju korosi adalah sudut lengkung yang besar dapat menurunkan nilai laju korosi terutama pada sudut 300 yang merupakan nilai rata-rata terendah untuk laju korosi.

 

Keyword: bending , heating, carbon steel pipe, hardness, Immertion test, coorotion rate.

ANALISIS VISIBILITAS PEMBUATAN PIPA CABANG PADA PIPA DISTRIBUSI GAS ONLINE SERVICE (HOT-TAPPING)

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

 

Yunan Sadli Nasution1*, Budi Prasojo 2, Subagio So’im3

 

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: yunansadlinasution@gmail.com1*budiprasojo1968@gmail.com2*; bagiosoim@gmail.com3*;

 

ABSTRAK

Penambahan fasilitas pada industri diperlukan pembuatan percabangan baru, secara umum pemasangan percabangan baru mengharuskan untuk menghentikan sementara proses yang sedang beroperasi, sehingga menyebabkan kerugian yang sangat besar. Oleh sebab itu diperlukan teknologi yang digunakan untuk membuat percabangan tanpa menghentikan proses operasi. Pada tugas akhir ini percabangan dengan diameter 12” akan dipasang pada pipa existing diameter 16”. Sistem tersebut harus dipasang tanpa menghentikan operasi dari pipeline untuk menghindari kerugian yang sangat besar. Hot-tapping adalah teknologi yang berfungsi untuk membuat percabangan pada kondisi online service (tanpa menghentikan proses).

Pada tugas akhir ini dilakukan perhitungan dan analisa hasil perhitungan untuk memastikan proses hot-tapping benar-benar safe untuk dioperasikan. Poin – poin yang harus dperhatikan meliputi heat input, tekanan operasi selama proses pengelasan proses hot-tapping, tegangan yang terjadi pada sistem percabangan. Analisa pada split tee dilakukan karena tegangan yang terjadi akibat proses pengelasan dan pengurangan ketebalan. Analisa pada sistem pipa dilakukan karena terjadi percabangan baru sehingga menyebabkan terjadinya tegangan baru. Hasil dari analisa pada split tee dan pada sistem pipa digunakan sebagai acuan pembuatan prosedur pelaksanaan hot-tapping.

Tegangan maksimum yang terjadi pada pipa selama proses hot-tapping adalah pada area pengelasan (22.828 psi). Proses pengelesan mengakibatkan sebagian logam pipa mencair sehingga selama proses pengelasan (hot-tapping) tekanan kerja harus diturunkan sebesar 25,27%. Kondisi fluida didalam pipeline existing tetap safe karena pencairan akibat proses pengelasan tidak menembus bagian dalam pipa. Hasil desain percabangan baru layak untuk difabrikasi karena stress yang terjadi masih dibawah nilai tegangan ijin.

 

Kata Kunci : Hot tapping, tegangan pada split tee, tegangan pada sistem pipa.

ABSTRACT

In a piping system makes it possible to add branching into an existing piping system. In this final project will discuss about installation 12 ” branch pipe in to 16” existing pipe. The system should be installed without interrupting the operation of the pipeline to avoid huge losses. Hot-tapping is a technology that works to create branching on the online service pipe condition (without stopping the process).

In this final project calculation and analysis of the calculation results to ensure the process of hot-tapping absolutely safe to operate. parameters that must be considered include the heat input, the operating pressure during welding hot-tapping process, stress that occurs at the branching system. Analysis on split tees must be done because of stress that occurs due to the welding process and the reduction in thickness. Analysis on the plumbing system must be done because of a new branching thus causing new stress. The results of the analysis on split tees and the pipe system is used as a reference-making procedures for implementing hot-tapping.

Maximum stress that occurs in the pipes during hot-tapping process is the welding area (22 828 psi). The welding process causes melting partial in the metal pipe so, during welding process (hot-tapping) working pressure should be reduced by 25.27%. The condition of the fluid in the existing pipeline still safe because liquefaction as a result of the welding process does not penetrate to the inner pipe. The new design results in branch pipe eligible to fabricated because stress that occurs is still below the allowable stress values.

Key words : Hot tapping, Stressin split tee, Stress in piping system.

Perancangan Fire Water Tank, Upgrading Fasilitas Produksi Stasiun Pengumpul Bangadua Pertamina EP Asset 3

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Hanindya Eka Pratama.1*, Muhammad Shah.2, Fipka Bisono.3

 

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: ekhatama13@gmail.com1*muh.shah59@yahoo.co.id2*; @email.com3*;

 

Abstrak– Fasilitas produksi SP Bangadua merupakan fasilitas produksi sewa milik Field Jatibarang. Dengan mempertimbangkan potensi produksi dari lapangan Bangadua dan biaya operasional SP Bangadua, maka Pertamina EP berencana melakukan pembangunan fasilitas permanen di SP Bangadua yang terdiri dari header manifold, unit saparasi dan unit Dehidrasi (Dehydration Unit). Di dalam pekerjaan upgrading tersebut salah satu pekerjaannya ialah merancang Fire Water Tank. Untuk merancang Fire Water Tank ini digunakan standar-standar Internasional yang sudah baku seperti API 650, ASME, SNI. Lingkup pekerjaan dari tugas akhir ini melakukan pemilihan material, menentukan jumlah course, dan menghitung secara manual pada bagian desain stabilitas Shell terhadap beban angin dan gempa, lubang angin pada atap, bill cost material, dan tebal bottom annular plate, shell, roof tank dengan metode One-Foot berdasarkan API 650 11th Edition, Addenda 2011. Spesifikasi storage tank memiliki kapasitas atau volume 935m3, berdiameter 34,45ft dengan tinggi sebesar 35,43ft data tersebut telah ditentukan PT Pertamina EP Cirebon selaku owner. Dari hasil data yang telah didapat dari perhitungan manual, data tersebut akan diproses dalam software ANSYS sebagai simulator dan alat bantu analisa untuk mendapatkan nilai desain yang ekonomis dan optimal.

Kata kunci: SP Bangadua, Pertamina EP Asset 3, Fire Water Tank, API 650 11th Edition, Addenda 2011, bottom, shell, roof, ANSYS.

Design of Fire Water Tank, Upgrading Stations Production Facilities Asset Gatherers Bangadua Pertamina EP 3
Piping Engineering Department, Engineering Machinery Boats, Surabaya Shipbuilding State Polytechnic

Hanindya Eka Pratama.1*, Muhammad Shah.2, Fipka Bisono.3

 

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: ekhatama13@gmail.com1*muh.shah59@yahoo.co.id2*; @email.com3*;

 

Abstract – SP Bangadua production facility is a facility belonging to Field Jatibarang lease production. Taking into account the potential production from the field Bangadua and operational costs SP Bangadua, Pertamina EP plans to undertake the construction of permanent facilities in SP Bangadua which consists of a header manifold, units and unit saparasi Dehydration (dehydration Unit). The upgrading work within one job is designing Fire Water Tank. To design Fire Water Tank is used international standards is standard such as API 650, ASME, SNI. The scope of work of this thesis material selection, determine the number of courses, and to calculate manually the design part of the stability of Shell to wind load and earthquake, the vent on the roof, bill the cost of materials, and a thick bottom annular plate, shell, roof tank with method One-Foot by API 650 11th Edition, 2011. Specifications addenda storage tank has a capacity or volume of 935m3, 34,45ft diameter with a height of 35,43ft the data has been determined PT Pertamina EP Cirebon as the owner. From the results of the data that has been obtained from the manual calculation, the data will be processed in ANSYS software as a simulator and analysis tools to obtain economic value and optimal design.
Keywords: SP Bangadua, Pertamina EP Asset 3, Fire Water Tank, API 650 11th Edition, addenda, 2011, bottom, shell, roof, ANSYS.

DESAINPRESSUREVESSELTIPEHORIZONTALuntuk

PEMURNIANTEG(TRYETHILENEGLYCOL)

ProdiTeknikPerpipaan,JurusanTeknikPermesinanKapal,Politeknik

PerkapalanNegeriSurabaya

ErwinFirmansyahPradana1*, MuhammadShah,ST.,MT. 2*,Subagio So’im,ST., MT.3*

PoliteknikPerkapalanNegeriSurabaya,Surabaya, Indonesia1* PoliteknikPerkapalanNegeriSurabaya,Surabaya,Indonesia2* PoliteknikPerkapalanNegeriSurabaya,Surabaya,Indonesia3*

Email:nawaerwin@gmail.com1*; muh.shah59@yahoo.co.id2;bagiosoim@gmail.com3*;

ABSTRACT

The following article describes pressure vessel design which accommodate the regeneration of Triethylene Glycol(TEG).This vessel designto determine minimum thickness of pressure vessel component consist of shell,head and nozzle. Other wise ,also designs addle which can cover internal and external load consist of wind, seismi ,and transport load. There are three conditions that will be conside rate in saddle design ,operating condition ,operating condition which in clued wind and seismic load ,and transpor t condition .This vessel use two method for calculation, manual and PV-Elites of ware.There is no significant result of thickness minimum from both method and saddle design load is accept able because the stress value caused by external load is under allow able stress value of material.

Keyword:design ,external load, pressure vessel, software, allow able stress

ABSTRAK

Artikel penelitian ini menjelaskan perancangan pressure  vessel yang berfungsi sebagai sebagai regenerasi cairan TriethyleneGlycol(TEG). Perancangan ini dilakukan untuk menentukan ketebalan minimum dari komponen- komponen pressure vessel meliputi shell ,head ,dan nozzle.Selain itu juga merancang saddle yang mampu mengcover beban yang akan diterima vessel yaitu beban internal dan beban eksternal meliputi beban angin, seismic, dan transport. Terdapat tiga kondisi yang akan diperhitungkandalam perancangansaddleyaitukondisioperasi,kondisi operasi dengan mempertimbangkan beban angin dan seismic , serta kondisi transport. Dalam  perancangan pressure vessel ini mengunakandua metode perhitunganya itu manual dan juga dibantu dengan penggunaan software PV- Elite. Hasil perhitungan nilai ketebalan minimum dengan menggunakan dua metode ini tidak terdapat perbedaan nilai yang signifikan dan saddle yang telah didesain dengan mempertimbangkan beban eksternal dapat diterima karena nilai tegangan yang dihasilkan masih dibawah nilai tegangan yang diijinkan material.

Katakunci:desain,bebaneksternal,bejanatekan, software,teganganijin

PENGARUH ROUGHNESS DAN TEMPERATUR PEMANASAN INDUKSI PIPA TERHADAP KUALITAS COATING FBE KARUMEL EX4413-L300(S) DI PT KHI PIPE INDUSTRIES

Prodi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

 

Hanif Tareq Azier1*, Subagio So’im, ST., MT.2, Fipka Bisono, SST., MT.3

 

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia 3

Email: hanif27tareq@gmail.com1*subagiosoim@gmail.com2*; fipkabiz@gmail.com3*;

 

 

ABSTRAK

Coating FBE (Fusion Bonded Epoxy) sering digunakan untuk perlindungan korosif pada bagian luar pipa (external coating). Jenis FBE yang digunakan berbentuk bubuk dengan tipe Karumel EX4413-L300(S). Tipe FBE tersebut berjenis FBE low temperature. FBE low temperature umumnya digunakan sebagai primer coating yaitu lapisan pelindung pipa yang sangat penting, karena lapisan tersebut berhubungan langsung dengan permukaan pipa. Sehingga diperlukan nilai roughness dan temperatur pemanasan induksi pipa yang bagus untuk mendapatkan kualitas coating yang baik. Berdasarkan masalah tersebut di atas, maka pengujian cathodic disbondment test dan adhesion test dilakukan pada penelitian ini untuk menentukan kualitas coating FBE. Nilai cd test didapatkan dalam satuan milimeter, sedangkan nilai pengujian adhesion test didapatkan antara rating 1-5. Pengujian tersebut mengacu pada standar CSA Z245.20-10 untuk adhesion test dan CSA Z245.21-10 untuk cathodic disbondment test. Spesimen akan semakin bagus jika nilai hasil pengujian cd test dan adhesion test semakin kecil. Hasil akhirnya adalah nilai temperatur pemanasan induksi pipa harus tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah agar mendapatkan kualitas coating FBE yang bagus. Urutan temperatur dari yang paling bagus adalah 220°C, 230°C, 200°C, 180°C, dan 240°C. Nilai roughness berbanding terbalik sehingga terhadap nilai hasil pengujian, sehingga semakin besar nilai roughness maka semakin kecil nilai hasil pengujiannya. Urutan roughness dari yang paling bagus adalah 80±3μm, 70±3μm, 60±3μm, dan 50±3μm.

Kata Kunci :FBE, CSA Z245.21-10, CSA Z245.20-10, temperatur pemanasan induksi pipa, roughness, cathodic disbondment test, adhesion test

Penyusunan Ulang Time Schedule Pekerjaan Piping Installation Menggunakan Metode Crashing Pada Ichthys LNG Project Facility

 

Anugerah Ekawiyani Q.A1*, Nurvita Arumsari2, M. Choirul Rizal3

 

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia1*

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia2

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia3

Email: anugerahekawiyaniqa@gmail.com1*, arum@ppns.ac.id2, mochammadchoirulrizal@yahoo.com3

 

ABSTRAK

Ichthys Liquefied Natural Gas (LNG) Project Facility merupakan proyek yang membutuhkan waktu lama dalam proses pengerjaannya karena harus melewati beberapa tahapan proses. Dari beberapa tahapan proses tersebut kegiatan erection merupakan kegiatan dimana didalamnya banyak terdapat kendala. Proses ini berakibat pada jadwal yang sebelumnya telah ditargetkan menjadi terlambat dan harus dilakukan percepatan kegiatan, sehingga diperlukan metode Crashing Time untuk mengatur kembali durasi dan biaya yang akan digunakan. Selain Crashing Time juga digunakan metode Bar Chart (Gantt Chart). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perencanaan waktu yang tepat dan mengetahui durasi yang digunakan untuk proses pengerjaan proyek. Durasi normal pekerjaan yang ditentukan sesuai dengan perhitungan CPM (Critical Path Method) adalah 83 hari dan setelah dilakukan percepatan (Crashing) durasi kerja menjadi 72 hari. Nilai produktivitas untuk assembly pada line 1-3=0.1ton/hari, line 3-6=0.72ton/hari, line 6-9=0.825ton/hari, line 9-11=0.15ton/hari, dan hydrotest=2,24 ton/hari. Produktivitas normal diketahui untuk assembly line 1-3=0.08ton/hari, line 3-6=0.54ton/hari, line 6-9=0.61, line 9-11=0.12ton/hari, dan hydrotest=1.68ton/hari. Perhitungan biaya didapatkan untuk total biaya crashing perhari  Rp29,928,948.66 dan total biaya normal perhari Rp17,666,121.36 sehingga selisih dari keduanya Rp3,268,863.30, biaya total hingga pekerjaan selesai dari hasil total biaya crashing Rp1,135,846,400.22 dan total biaya normal Rp1,212,603,590.58 sehingga selisih dari keduanya Rp76,757,190.36. Dari hasil tersebut  metode crashing merupakan cara yang efektif untuk mengatur ulang jadwal agar tidak terjadi keterlambatan.

 

Kata Kunci : erection pipe spool, crashing time, bar chart (gantt chart), cpm (critical path method)

 

ABSTRACT

Ichthys Liquefied Natural Gas (LNG) Project Facility is a project that takes a long time in the course of the work because it must pass through several stages of the process. Of the several stages of the process the erection activity is an activit which there are many obstacles. This process resulted in a schedule previously targeted to be late and must be accelerated activity, so they needed Crashing Time method to reorganize the duration and cost of that will be used. Besides Crashing Time is also used Bar Chart (Gantt chart) method. This research aimed to know the proper time of planning and know used duration for the project. The normal duration of work determined in accordance with the calculation of CPM (Critical Path Method) is 83 days and after acceleration (Crashing) duration to 72 days. Value productivity for assembly on line 1-3=0.1tons/day, line 3-6=0.72tons/days, line 6-9=0.825tons/day, line 9-11=0.15 tons/day, and hydrotest=2,24 tons/day. Normally productivity known for assembly line 1-3=0.08 tons/day, line 3-6=0.54 tons/day, line 6-9=0.61 tons/day, line 9-11=0.12tons/day, and hydrotest=1.68 tons/day. Calculation of costs obtained for a total cost of crashing per day Rp29,928,948.66 and the total cost of normal daily Rp17,666,121.36 so that the distance of both Rp3,268,863.30, the total cost to complete the work of the results of the total cost of crashing Rp1,135,846,400.22 and the total normal cost Rp1,212,603,590.58 so that the distance of both Rp76,757,190.36. From these results crashing method is an effective way to rearrange the schedule in order to avoid delays.

 

Keyword : erection pipe spool, crashing time, bar chart (gantt chart), cpm (critical path method)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

image_printPrint to PDF